The Power of Emak

Tidak semua orang senang pertobatan orang lain karena dia sendiri tak bertobat. Ia lebih senang orang lain dihukum atas kesalahannya, ia lebih suka menempeleng orang lain dulu biar ikut merasakan akibat buruk yang diakibatkan kesalahanya, biar dendam terbalaskan, dan orang itu bertobat sungguh-sungguh. Ia lupa bahwa ia sendiri mestinya juga bertobat.

Pertobatan itu susah dimengerti oleh mereka yang hanya melihat persoalan pelanggaran hukum semata. Tentu saja, memangnya Allah itu melanggar hukum yang mana dengan menghukum orang bersoda eh… berdosa [itu salah ketik betulan, bukan gaya tulisan]? Tak ada bunyi hukum yang melarang Tuhan menghukum manusia. Ia berhak untuk berbuat apapun atas ciptaan-Nya sendiri. Gak ada kan patung telanjang njuk milih untuk berpakaian karena malu? Suka-suka pematungnyalah…

Kalau menilik bacaan pertama hari ini, pertobatan Allah ternyata dipicu juga oleh pertobatan manusia sendiri. Manusia bertobat dari dosa-dosa mereka, Allah bertobat dari rencana-Nya untuk mengeliminasi orang-orang Niniwe (timur Mosul sekarang ini kalau saya tak salah baca). Keduanya sama-sama berarti hendak merealisasikan bahwa Allah itu maha pengasih dan penyayang bagi siapa saja. Dalam bahasa Kristiani, Ia mau menjadi Bapa bagi semua. Kalo’ Ia mengeliminasi orang-orang Niniwe, Ia tak lagi jadi Bapa bagi semua. Begitu juga kalau orang Niniwe tak bertobat, mereka tak membiarkan Allah menjadi Bapa bagi semua orang.

Sejujurnya, saya tak tahu apa artinya Bapa selain penekanan dimensi kerahiman-Nya. Ini bukan soal gender meskipun dengan kata rahim asosiasi kita langsung tertuju pada perempuan yang punya rahim. Bayangkanlah janin dalam rahim ibu yang menerima cinta searah [sejauh si emak bukan pribadi yang bermasalah dengan hidupnya sendiri ya]. Sang emak mengupayakan sebaik-baiknya supaya si janin kelak terlahir baik-baik, apapun yang dibuat janin dalam rahim itu.

Kasih Allah yang maharahim tentu jauh lebih besar dari kasih ibu (bdk. Yes 49,15 misalnya). Padahal, kasih ibu saja sudah dianalogikan seperti sang surya, yang menyinari dunia tanpa meminta sinarnya dikembalikan. Horison ini kiranya bisa jadi pijakan orang untuk bertobat: lebih merealisasikan the power of emak-emak bukan karena ia bisa menaklukkan laki-laki, melainkan karena ia bisa menyimbolkan kerahiman Allah dengan cintanya yang bisa jadi membatalkan niat jahat orang untuk menghukum, membalas dendam, menunjukkan kuasa, dan sejenisnya.

Ya Allah, mohon rahmat supaya kami semakin mampu merealisasikan kerahiman-Mu. Amin.


HARI RABU PRAPASKA I
8 Maret 2017

Yun 3,1-10
Luk 11,29-32

Posting 2016: Apa Guna Posesif?
Posting
2015: Belajar Tobat dari Orang Lain

Posting 2014: Repentance: Fusion of Horizons

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s