Doa Nonsense

Orang yang tidak berdoa, tidak mendengarkan batinnya sendiri sekurang-kurangnya.

Pernah ndhak saat pertemuan ada doa yang dipimpin oleh seseorang yang memberi aba-aba “Berdoa mulai!” dan setelah beberapa detik memberi pengumuman “Berdoa selesai!”? Dulu saya sering mendengar itu, terutama kalau itu adalah pertemuan yang melibatkan aneka pemeluk agama dan kepercayaan. Lucu gak sih? Banget! Apakah itu hanya terjadi dalam konteks pertemuan lintas agama? Tidak juga.

Dalam ibadat Gereja Katolik, misalnya, ada bagian semacam doa syafaat yang didaraskan oleh pembaca doa (lektor/lektris) dan biasanya diakhiri dengan ‘Kami mohon…’ dan kemudian ditanggapi oleh umat dengan ‘Kabulkanlah doa kami’ atau yang lainnya. Kadang imamnya menambahkan kesempatan umat untuk mengajukan permohonan dalam hati, lalu setelah beberapa detik ia mengakhiri dengan “Kami mohon…’ Lha sing dimohon ki apa jal? Barangkali ada umat yang baru tersengguk-sengguk untuk menyadari diri di hadirat Tuhan dan baru sempat menyapa, belum sempat menyampaikan doa permohonan, sudah mesti menjawab “Kabulkanlah doa kami ya Tuhan”!

Begitulah ritual, yang tidak menjamin terjadinya doa personal. Jika blog ini menyinggung doa, itu pasti maksudnya bukan ritual (apalagi ditambahi imbuhan -isme) yang tak disertai penghayatan pribadi. Bacaan hari ini menyajikan rumusan doa Bapa Kami. Tentu saja, rumusan doanya sendiri bukanlah pokok pentingnya. Terserahlah mau berteriak-teriak memuliakan ABC haleluya, tetapi poin pentingnya bukan teriakan rumusan itu, melainkan makna dan isi rumusan itu dalam hidup konkret.

Pantas diingat apa yang dituliskan Paulus: for the letter kills, but the Spirit gives life. Itu berarti orang perlu lebih fokus pada Roh doa itu sendiri daripada rumusan dan tatanannya. Kalau mau ubah-ubah ya mbok dibicarakan baik-baik dan lihat kondisinya, hahaha….

Pokoknya, seperti yang diajarkan Yesus hari ini, gak usah bertele-tele dah. Orang yang berdoa itu mendengarkan sekurang-kurangnya batin terdalamnya sendiri dan syukur-syukur mendengarkan kehendak Allah dan merealisasikannya dalam hidup konkret. Di situ, doa bukan lagi omong kosong.

Ya Allah, bantulah kami untuk tekun mendengarkan bisikan-Mu dan tidak omong kosong saja dalam doa kami. Amin.


HARI SELASA PRAPASKA I
7 Maret 2017

Yes 55,10-11
Mat 6,7-15

Posting Tahun 2016: Sumur Resapan Doa
Posting
 Tahun 2015: The Power of Prayer

Posting Tahun 2014: Lord’s Prayer: Principle and Foundation

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s