Anak Babi?

Metamorfosis yang kita kenal umumnya adalah perubahan bentuk hewan dari ulat menjadi kupu-kupu. Belum pernah terjadi perubahan bentuk manusia kecuali dari laki-laki menjadi buaya darat [njuk nek perempuan dadi opo yo?]. Tentu ada operasi plastik bagi para perempuan yang kurang pede dengan wajahnya dan operasi kelamin bagi mereka yang mesti mengakhiri pergumulan krisis identitasnya. Akan tetapi, metamorfosis yang dituturkan dalam bacaan hari ini sepertinya tak ada analoginya, dan kiranya memang tak pernah terjadi dalam sejarah.

Loh, berarti Kitab Suci ini menuturkan hoax ya? Gak ada catatan sejarah yang menunjukkan bahwa Yesus berubah rupa. Ini cuma bisa-bisanya yang nulis Injil Matius aja. Hoax! Iya, mungkin saja itu betul hoax kalau tolok ukur peristiwa sejarahnya seperti peristiwa bom di Hiroshima dan Nagasaki. Peristiwa metamorfosis di gunung yang tinggi ini lebih tepat disebut sebagai peristiwa iman yang dihayati dalam sejarah. Peristiwa iman ditulis bukan sebagai reportase sejarah, melainkan sebagai refleksi yang bisa menginspirasi, membantu orang untuk semakin mengenali diri di hadirat Allahnya. Salah satu insightnya bisa dilihat dalam posting Higher, Better Vision, misalnya.

Insight hari ini diwarnai peristiwa salah satu cagub yang menghadiri perayaan ulang tahun someone di kompleks tempat peribadatan dan salah satu yel-yel yang mengesankan di situ adalah teriakan terhadapnya: anak babi! Keren, bukan? Yang meneriakkan julukan itu tentu tidak membaca posting hari-hari ini dan kalaupun ia membaca, ia tak menangkap apa yang dibacanya, dan kalau ia menangkapnya, ia tak memahami implikasi normatif dari bacaan itu: pun jika lawanmu ada di dekatmu, tak sepantasnyalah kamu mencaci maki dia sebelum kamu mendoakannya. Celakanya, kalau kamu sungguh mendoakannya, kamu tak punya alasan untuk mencaci makinya.

Memang memprihatinkan bahwa begitu banyak orang memakai tameng topeng agama untuk kepentingan politis. Dalam atmosfer ketidaktulusan macam ini, dimensi lain dalam kehidupan berbangsa dicederai. Dalam kenyataan hidup macam begini, sulitlah menangkap insight bahwa pada dasarnya setiap orang adalah anak yang dikasihi Allah. Yang pada dasarnya ini sudah ditimbun dengan aneka prasangka dan ambisi politis dan lama-lama bisa jadi lumrahlah orang meneriaki sesamanya sebagai anak babi, anak buaya, anak anjing, anak monyet, dan sejenisnya. Artinya, orang tak lagi connect dengan jati diri yang sesungguhnya, tetapi malah dengan identitas  yang diberikan manusia (serigala) lain.

Tuhan, mohon rahmat-Mu supaya kami memiliki keberanian untuk mendengarkan suara-Mu dan meyakini bahwa kami adalah anak-anak-Mu. Amin.


Minggu Prapaska II A/1
12 Maret 2017

Kej 12,1-4a
2Tim 1:8b-10
Mat 17,1-9

Posting Tahun C/2 2016: Hidup sebagai Hadiah
Posting Tahun B/1 2015: Abraham Samad-omba
Posting Tahun A/2 2014: Apa Itu Panggilan Suci?
*

2 replies

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s