Siapa Modelku?

Apa yang bisa Anda buat kalau (operating) cash flow Anda bernilai 2,3 trilyun? Saya yakin Anda tak punya uang sebanyak itu [karena dengan uang sebanyak itu Anda tak akan membaca tulisan beginian], tetapi mari berandai-andai sebentaaaar saja. Andaikanlah Anda punya kemampuan untuk mempertahankan bahkan meningkatkan cash flow itu, apa yang akan Anda buat? Mendanai proyek Kartu Indonesia Pintar untuk 2,3 juta siswa sekolah menengah? Membangun 15 pos lintas batas negara? Membiayai pembangunan seribu jembatan gantung? Itu semua bisa Anda lakukan, dan setelahnya Anda gigit jari karena cash flow tadi langsung tamat riwayatnya. Sik sik sik sebentar, apa ya sesederhana itu? Tentu bisa diatur supaya cash flow tidak tamat.

Justru itulah. Secara instingtif, orang mesti memutar akal [opo ra mumet] supaya cash flow lancar jaya. Prinsipnya mesti ada relasi positif antara tindakan investing dan financing supaya operating cash flow tidak terkuras dan orang bisa survive. Begitulah ranah kehidupan fisik manusia. Ada hitung-hitungan yang mesti dibuat supaya minimal orang bisa survive. Akan tetapi, untuk apa sih survival itu kalau bukan demi ranah kehidupan lainnya? Untuk apa toh orang berjibaku bekerja keras membanting-banting tulang kalau bukan demi kebahagiaan? Celakanya, jalan menuju kebahagiaan sempurna itu tak cuma ada dalam jalur cash flow tadi. Kebahagiaan bukan per se hasil dari jibaku saja, melainkan bisa juga hadir dalam jibaku itu.

Ngeri kan kalau orang bekerja mati-matian demi anaknya sehingga malah tak punya waktu untuk anaknya? Lebih ngeri lagi kalau setelah tuanya, anaknya itu juga tak punya waktu untuk orang tuanya. Njuk kerja keras yang dulu untuk kebahagiaan itu menguap ke mana ya?

Bacaan hari ini bicara soal kemurahan hati Allah sebagai parameter orang untuk menghakimi atau menghukum atau mengukur orang lain. Ini pasti bukan soal mengevaluasi bagaimana pengelolaan cash flow tadi, melainkan soal evaluasi moral atau penilaian karakter orang lain. Orang boleh saja mengkritik orang lain habis-habisan mengenai program kampanye, mengenai rencana dan cara kerja, mengenai performance dalam pertandingan, dan sejenisnya, tetapi jika sudah berkenaan dengan keseluruhan pribadi, ia semestinya memakai model Allah yang maha pengasih dan penyayang. Pelanggaran prinsip ini dijamin akan menimbulkan huru-hara. Sudah terlalu banyak kejadiannya bahwa orang menghakimi sesamanya tanpa perspektif kemurahan hati Allah dan hanya bermain di ranah cash flow tadi: akal-akalan supaya bisa survive, bagaimanapun caranya, entah dengan fitnah, janji palsu, atau bahkan sentimen kafir-kafiran.

Semoga muncul lebih banyak tokoh yang mengadopsi model kerja Allah yang berbelas kasih: mengampuni mereka yang secara membabi buta melakukan fitnah, mendoakan mereka yang menurut kita tersesat, membalas dengan senyuman mereka yang berteriak-teriak mencaci maki, dan sebagainya.

Ya Allah, semoga kami senantiasa lebih tergerak meneladan belas kasih-Mu daripada mengadopsi cara-cara kekuasaan yang menodai hidup bersama kami. Amin.



HARI SENIN PRAPASKA II
13 Maret 2017

Dan 9,4b-10
Luk 6,36-38

Posting Tahun 2015: Bukan Gaya Murahan
Posting Tahun 2014: Solidaritas dan Arogansi Terselubung

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s