Orang Beragama Degil

Penulis teks bacaan hari ini tampaknya memang ‘sinis’ banget terhadap para murid si guru dari Nazareth. Kalau ditinjau dari keseluruhan buku tulisannya memang kerap ditunjukkan bagaimana para murid itu gagal memahami hidup dan ajaran guru mereka (bdk. Mrk 4,40; 6,50; 9,19; 9,32; dst) dan di kutipan hari ini dikatakan bahwa sang guru itu mencela ketidakpercayaan dan kedegilan hati mereka.

Jangan-jangan memang sebetulnya mayoritas orang beragama itu malah kurang percaya dan hatinya degil. Saya memang pernah mendengar ungkapan seperti itu, dari sekian banyak umat beragama, yang sungguh-sungguh beriman paling ya cuma 10%. Runyamnya, Anda tidak bisa menentukan sendiri apakah Anda termasuk dalam yang 10% atau yang 90%. Saya juga tidak bisa. Yang bisa saya katakan cuma bahwa dalam diri saya ada unsur ketidakpercayaan dan kedegilan hati itu, mungkin 90%, bisa jadi 25%, dan sebagainya.

Setiap orang beragama mesti ngaca apakah agama justru membuatnya degil dan tidak percaya pada hal yang sungguh penting bagi kebaikan bersama. Ini bukan lagi soal percaya kepada Tuhan, soal Tuhan yang cuma satu atau tiga, lima, dan seterusnya. Itu konsumsi mereka yang hobi teka-teki silang (menjodohkan kata dengan ide), dan blog ini tidak ditujukan hanya bagi mereka yang hobi TTS. Ini soal kepercayaan dan iman akan Tuhan yang connect dengan semesta, yang tak mungkin diceraikan dari hidup manusia, terlepas dari klaim orangnya sendiri. Artinya, orang boleh mengklaim diri tak percaya pada Allah, tetapi klaim itu tak hendak menyatakan bahwa Allah tak ada. Orang boleh saja menyimpulkan bahwa Allah tak intervensi dalam proses semesta, tetapi itu tak berarti bahwa Allah memang tak hadir dalam proses semesta.

Loh, apa bukannya Romo malah membuat klaim sewenang-wenang: terserah lu mau omong apa pokoknya Allah connect dengan semesta?
Persis pertanyaan dan kritik macam itulah yang jadi contoh orang yang hobi TTS tadi: Allah itu cuma wacana kepala yang tidak melibatkan keseluruhan pribadinya. Ia cuma connect dengan otaknya ketika berhadapan dengan Allah, tetapi tidak aware bahwa otaknya disuplai oleh oksigen yang tidak dibikin oleh otaknya sendiri. In my humble opinion, itu bedanya klaim yang saya buat dengan klaim yang dibuat ateis, misalnya. Tentu bersama Stephen Hawking orang bisa menyatakan bahwa oksigen dan lain-lain itu sudah built-in dalam totalitas semesta ini, tidak disuplai oleh sesuatu di luar semesta. Silakan, tetapi itu tidak menyangkal bahwa totalitas semesta tetap disokong oleh ‘pengada’ yang transenden, yang memungkinkan semesta ini jadi sustainable. (Kalau mau akrab dengan Dilan silakan baca halaman Metafisika Soto Pisah).

Mo, yang membuat semesta jadi sustainable atau tidak kan ya manusianya sendiri, mau merusak atau merawat semesta. Lha persis itu dia, Son, koneksi Allah dengan semesta antara lain terletak pada bagaimana manusianya merawat semesta. Manusia punya unsur transendensi (lagi, Metafisika Soto Pisah tadi). Itu mengapa saya mengklaim bahwa Allah connect dengan semesta. Akan tetapi, ketidakpercayaan dan kedegilan orang beragama justru hendak menceraikan koneksi itu: mereka tak merawat semesta yang plural, malah hendak menyeragamkannya dengan tolok ukur agamanya sendiri.

Tuhan, sembuhkanlah penyakit kedegilan hati kami terhadap rahmat cinta-Mu. Amin.


SABTU DALAM OKTAF PASKA
7 April 2018

Kis 4,13-21
Mrk 16,9-15

Posting 2017: Maaf, Belum Move On 
Posting 2016: Gubernur Sante(t)
Posting 2015: Baptis Semua Orang? Yang Bener Aja

Posting 2014: Ber-Tuhan Tanpa Agama?

2 replies

  1. Halo Romo..

    Konon katanya, sains “berkata”.. saat jaman pra-sejarah.. manusia zaman itu tdk berbicara sefasih sekarang .. kemudian proses evolusi memungkinkan perkembangan area otak yg mengatur kata-kata maka munculah bahasa.. kmudian komunikasi jadi efektif.. dari situ munculah pertanyaan2 yg sulit di jawab, manusia butuh “something to look up to”, kemudian muncul AGAMA primitif tentu,, trus muncul agama lain.. trus tentu muncul Tuhan… hanya komen ..berkah dalem..#melihatdariperspektiflain#musmet

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s