You are beloved

Bagaimana rasanya ya pergi mendanau semalam-malaman untuk menjala ikan dan hasilnya nihil? Entahlah, saya hanya tahu bagaimana rasanya naik kereta dan tak bisa sungguh-sungguh tidur dari jam sembilan malam sampai jam enam pagi. Ngantuks berat; dan Anda tentu tahu hiburan apa yang paling menyenangkan bagi orang yang ngantuk berat itu: TIDUR.

Itu yang bisa saya imajinasikan mengenai apa yang dilakukan para murid dalam teks bacaan hari ini. Mereka bukan hanya mengantuk, tetapi juga kelelahan. Kok ya alih-alih tidur, mereka malah menuruti perintah you know who untuk menebarkan jala lagi ke sisi kanan perahu, yang tentu sudah mereka lakukan semalam-malaman dengan hasil nol.

Jujur saja ya, saya tidak tahu apakah memang peristiwa ini terjadi begitu dan settingnya di danau setelah kematian si guru dari Nazareth. Akan tetapi, karena teks ini dari penulis Yohanes, saya duga nuansa simbolik lebih kental daripada paparan deskriptif laporan historis kejadian yang sebenarnya. Mari lihat misalnya oposisi malam-siang, gelap-terang, nihil-overload, kiri-kanan.

Gerak naratif menunjukkan bahwa oposisi itu menuju pada siang, terang, kanan, dan overload. Artinya, semalam-malaman dalam gelap tak menghasilkan apa-apa, tetapi di siang hari para murid menuai hasil berlimpah. Apa yang membuat perubahan itu? Mereka mendengarkan suara Tuhan yang memberi mandat, meskipun semula mereka tak menyadari bahwa yang memberi mandat itu adalah Tuhan sendiri.

Lha, yang menarik saya ialah sosok murid yang dikasihi guru dari Nazareth itu. Dialah yang memberi tahu Petrus bahwa yang menyuruhnya menebarkan jala di sebelah kanan tadi adalah guru mereka sendiri.
Mengapa itu menarik saya? Karena begitulah menjadi murid yang dikasihi Tuhan: mengenali pola kerja Allah dalam hidup yang serba biasa. Mana sih pola kerja Allah itu?

Anda mungkin ingat kutipan “Buluh yang patah terkulai takkan diputuskan-Nya”. Untuk menjadi murid yang dikasihi Tuhan, orang tak perlu mesti menempuh studi teologi atau filsafat. Cukuplah ia membuka mata dan telinga dan semua indra yang dimilikinya bersama dengan hati dan budi yang terbuka pada kebahagiaan sesungguhnya, yang mestinya adalah ke-berbuah-an terhadap hidup bersama. Orang macam ini tak berhenti pada apa yang menyenangkannya belaka, yang malah bikin macet.

Kembali ke ngantuk tadi: bisa jadi yang klop dengan ke-berbuah-an justru adalah hal yang tidak menyenangkan. Yang menyenangkan ya menyenangkan, tetapi bisa jadi tidak memberikan buah. Ngantuk ya enaknya tidur, tetapi kalau selalu begitu, coba cek jangan-jangan cacingan loh, kata tetangga saya. Maka dari itu, orang beriman kiranya menimbang, memilih, memutuskan bukan atas dasar LIKE-DISLIKE (kecuali pilihannya soal selera), melainkan atas dasar komitmen terhadap nilai yang mengantar orang pada kemaslahatan semakin banyak orang.

Ya Tuhan, mohon rahmat keberanian untuk memilih berdasarkan apa yang menyenangkan-Mu lebih daripada kesenanganku. Amin.


JUMAT DALAM OKTAF PASKA
6 April 2018

Kis 4,1-12
Yoh 21,1-14

Posting 2017: Mana Janjinya
Posting 2016: Cinta nan Luntur

Posting 2015: Liturgi (Kreatif) Biang Perpecahan?
Posting 2014: Blusukan ala Kristus

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s