Mana Janjinya…

Kata tetangga sebelah, janji adalah hutang; dengan demikian, orang yang banyak berjanji adalah orang yang banyak berhutang juga. Tak mengherankan bahwa paslon yang menang kampanye karena banyak janji manies, mulai ditagih hutang muaniesnya. Repotnya ialah jika janjinya itu terikat pada aneka segmen yang saling bertentangan: nanti akhirnya segmen yang lemahlah yang akan dikorbankan. Begitulah cara kerja roh ja’at menjerumuskan konstituennya.

Kisah yang disodorkan bacaan hari ini menunjukkan dinamika yang berbeda. Konstituen janji Yesus, setelah ‘kekalahannya’, mau mengundurkan diri dari laga pewartaan kabar gembira. Mereka mengalami setback, hendak kembali ke pola hidup lama yang begitu keras tanpa harapan akan bentuk-bentuk baru selain rutinitas bangun tidur, makan, mancing, makan, tidur, bangun tidur, makan, mancing, dan seterusnya. 

Perjumpaan dengan sosok pemberi janji bukan inisiatif konstituen, melainkan inisiatif si pemberi janji sendiri untuk mempertahankan api konstituennya, menjaga harapan pengikutnya, sekaligus memperkokoh keyakinan dan cinta mereka terhadap hidup yang serba biasa dengan muatan yang lebih berbobot. Kristus sendiri menyiapkan santapan untuk para murid sebagai bagian dari realisasi janji-Nya. Begitulah cara kerja roh baik untuk memelihara semangat hidup konstituennya supaya senantiasa menghasilkan buah.

Ya Tuhan, mohon rahmat supaya kami dapat keluar dari keterkungkungan kepentingan diri dan dapat menjadi sarana realisasi janji-Mu bagi sesama. Amin.


JUMAT DALAM OKTAF PASKA
21 April 2017

Kis 4,1-12
Yoh 21,1-14

Posting 2016: Cinta nan Luntur
Posting 2015: Liturgi (Kreatif) Biang Perpecahan?
Posting 2014: Blusukan ala Kristus