Maaf, Belum Move On

Konon dalam kultur Yahudi dulu ada mekanisme verifikasi peristiwa historis dengan sepuluh saksi dan sepuluh saksi ini haruslah laki-laki. Andaikan ada sembilan saksi laki-laki dan seratus saksi perempuan menyatakan hal yang sama, kesaksian seratus perempuan itu tak ada artinya, takkan menggenapi kesaksian sembilan laki-laki itu. Perempuan tak terhitung. Tanya kenapa!

Maka tak mengherankan bahwa dalam bacaan hari ini disodorkan semacam rangkuman bagaimana kesaksian perempuan akan penampakan Yesus itu tak dipercaya. Secara kultural, orang-orang saat itu dikondisikan untuk menganggap perempuan sebagai sosok yang lebay dengan omongannya. Apalagi, yang omong ini adalah perempuan yang dulu pernah dirasuki tujuh setan. Sempurnalah dia sebagai perempuan yang tak dapat dipercaya.

Akan tetapi, pun ketika warta kesaksian penampakan itu disampaikan oleh dua murid yang berjalan ke Emaus, para murid itu tak percaya juga. Kenapa? Ya barangkali karena kondisi kultural itu: kurang delapan laki-laki! Saya tidak yakin akan hal ini, karena dua orang ini ada dalam lingkaran para murid sendiri. Mosok sama temen gak percaya? Haiya, memangnya kalau mengaku teman njuk bisa dipercaya gitu po? Jelas-jelas Yudas Iskariot itu berkhianat. Nuansa itu lebih dominan daripada pertemanan murni tanpa pengkhianatan.

Akhirnya, penampakan Yesus terjadi pada semua murid yang berkumpul dan Yesus menegur kedegilan hati mereka. Kamu sekalian itu brengsek juga ya! Apa kemarin tidak baca posting mengenai post-truth itu? Mosok kalian ini ya seperti para penipu dan korban tipuan itu: lebih percaya pada ikatan rasa perasaan, emosi, kelekatan, daripada fakta objektif? Yesus sendiri menampakkan diri dan mengusir alasan kultural dan emosional mereka untuk tidak percaya pada warta kebangkitan.

Gimana lagi ya, memang tak mudah memercayai kebangkitan karena orang-orang yang mengklaimnya pun tak bisa menunjukkan fakta kebangkitan itu dalam dirinya. Tak mudah juga bagi orang yang terpuruk untuk menunjukkan diri sudah move on dan malah mengindikasikan supaya diberi toleransi senantiasa untuk tidak move on, ngotot dengan ideologi narsisnya.

Tuhan, kuatkanlah kami untuk bangkit dari keterpurukan sebagaimana Engkau tunjukkan kepada kami supaya orang lain memuliakan Engkau. Amin.


SABTU DALAM OKTAF PASKA
22 April 2017

Kis 4,13-21
Mrk 16,9-15

Posting 2016: Gubernur Sante(t)
Posting 2015: Baptis Semua Orang? Yang Bener Aja

Posting 2014: Ber-Tuhan Tanpa Agama?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s