Hantu Scooby-Doo

Kata Augustinus dari Hippo, Kebenaran itu seperti seekor singa. Anda tidak harus mempertahankannya (seperti disertasi, eaaaaa), berilah ia kelonggaran dan ia akan mempertahankan dirinya sendiri. Mungkin itu [Jürgen] klop[p] dengan apa yang disampaikan seorang uskup yang meninggal tahun lalu, Antonio Riboldi mengenai Cinta sejati (lagi? Ya ampun): Ia menawarkan diri seperti seorang yang berjingkat-jingkat, mengendap-endap [ala Scooby-Doo] untuk memberi ruang bagi kebebasan untuk menerima atau menolaknya. Real love is wonderful and demanding!

Itu juga yang terjadi pada hari-hari ini kepada murid-murid sang guru dari Nazareth. Tak ada yang memaksa mereka untuk percaya, tetapi memang ditunjukkan dalam kisah itu bagaimana mereka mesti mengevaluasi sendiri apa yang mereka lihat dan apa yang mereka alami.

Tadi di kelas, guru saya melontarkan teori sejarawan yang mengadakan penelitian tentang sang guru dari Nazareth itu, penelitian historis sungguhan: jenazah (#eh atau bangkai ya? Haha) orang yang disalib itu cuma digeletakkan di kuburan massal dengan ditutup tanah setebal beberapa puluh sentimeter dan anjing-anjing pasti sudah akan menghabiskan tulang-tulang mereka. Tak mengherankan, jenazah guru dari Nazareth itu tak ditemukan dan dibilang oleh pengikutnya: ia bangkit!

Tentu saja, aneka teori bisa disodorkan, tetapi ujung-ujungnya mah, menurut pendapatan saya yang tidak seberapa, yang penting apakah teori itu berdampak untuk upaya pembangunan dunia yang lebih bermartabat, tanpa diskriminasi, mengutuhkan ciptaan, atau malah menghancurkannya. Kalau memang teori anjing-anjing menghabiskan tulang guru dari Nazareth itu lebih fruitful, hambokya diikuti saja toh.

Saya tidak terkejut dengan teori itu, tidak mengganggu juga keyakinan yang disodorkan teks bacaan hari ini: sebelum tulangnya habis dimakan anjing dan setelahnya, guru dari Nazareth ini bukanlah hantu yang menakutkan Scooby-Doo tadi. Ia sungguh-sungguh manusia! Itu yang dibagikan oleh para murid. Entah apakah para peneliti tadi punya program untuk membuktikan bahwa yang dikatakan para murid itu hoax (karena tak ada foto). Syukur kalau mereka bisa membuktikan.

Itu juga tantangan Paska: bisakah orang beriman merealisasikan Allah yang senantiasa beserta manusia, mendaging, berdampak secara fisik, bukan teori suci omongan rohani belaka!

Tuhan, mohon rahmat supaya kami dapat mempersaksikan kebangkitan-Mu dalam hidup kami yang serba biasa. Amin.


KAMIS DALAM OKTAF PASKA
5 April 2018

Kis 3,11-26
Luk 24,35-48

Posting 2017: Warga Baperian
Posting 2016: Takut Salam Damai
 
Posting 2015: Iman Infantil

Posting 2014: Ujung-Ujungnya Apa Nih?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s