Mencari Jalan Alternatif

Kebaruan itu senantiasa membuat kita sedikit takut karena kita merasa lebih aman jika segalanya ada di bawah kendali kita, baik itu dalam hal perencanaan, pembangunan, atau perancangan hidup kita. Begitu halnya juga berkenaan dengan Allah: sulitlah memercayakan diri secara penuh kepada Allah, membiarkan Roh Kudus menjadi jiwa penuntun hidup kita. Kita takut bahwa Allah akan membuat kita menjalani jalur baru, mengeluarkan kita dari cakrawala yang sering kali sempit, tertutup, egoistik. 

Itu bukan kata-kata saya, melainkan terjemahan refleksi Paus Fransiskus empat tahun lalu. Kiranya refleksi itu memang cocok untuk menggambarkan situasi politik bagi banyak orang pasca pilgub DKI lalu. Setiap orang memerlukan transformasi hidup yang hanya bisa diaktualkan jika patokan hidupnya sungguh-sungguh diletakkan pada belas kasih Allah, yang mengatasi persoalan siapa pemenang pilkada. Problem ketidakadilan sosial takkan terpecahkan hanya dengan memilih gubernur dan wakilnya yang santun, selain tak terbukti bahwa ketegasan dan kegalakan gubernur memecahkan problem ketidakadilan struktural itu. 

Akan tetapi, marilah lihat bagaimana misalnya dalam kekalahan pilkada, seorang kontestan pemilu masih bisa mewariskan sistem budget pembangunan daerah yang memiliki keamanan dan mekanisme akuntabilitas bertingkat-tingkat sehingga menantang para maling untuk berpikir ulang mengenai apa yang akan mereka lakukan dengan budget tersebut. Mereka ‘dipaksa’ untuk mengubah orientasi mereka sendiri. Itu benar-benar tidak mudah, apalagi kalau sudah terlanjur punya janji manies mengenai proyek yang bisa dicuwilkan dari anggaran belanja daerah itu.

Perbincangan Nikodemus dan Yesus di malam hari itu tentu saja bagi Nikodemus adalah hal baru yang tak terpikirkan dalam benaknya. Ini bukan soal pencarian agama (kurang Yahudi bagaimana si Nikodemus ini!), melainkan soal pencarian Allah sejati melalui agama. Pencarian ini kadang bisa juga terjadi melalui ‘penolakan’ terhadap elemen-elemen agama dan sebaliknya bisa saja gagal jika orang malah dibutakan oleh agama. Kaum fundamentalis jagoan dalam hal ini dan yang mengherankan, orang yang mengklaim dirinya beriman itu justru takut pada kelompok bumi datar ini: jangan-jangan nanti Indonesia jadi seperti negara di Timur Tengah, jangan-jangan terjadi peristiwa seperti sekian puluh tahun lalu, dan seterusnya.

Persoalannya bukan bahwa skenario politik itu bisa mengarah ke situasi ini atau itu yang mengerikan, melainkan bahwa orang melakukan ini itu karena takut. Padahal, cukuplah buat analisis yang tajam dan lihat saja potensi persoalannya dan cari kemungkinan alternatif yang memungkinkan potensi mengerikan itu jadi impoten. Bukankah tak perlu dibumbui ketakutan seolah-olah orang tak ber-Tuhan?

Ya Allah, mohon rahmat keberanian untuk menempuh jalan terjal yang kerap kali justru dapat membongkar kebusukan diri kami sendiri. Amin.


HARI SENIN PASKA II
24 April 2017

Kis 4,23-31
Yoh 3,1-8

Posting 2015: Lahir dari Loteng? 
Posting 2014: Born to Be Alive

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s