Spiritualitas Kerumunan

Masa menjelang pileg-pilpres bisa jadi cermin bagi manusia pencari Tuhan: mencari Tuhan karena apa yang diberikan-Nya lebih daripada siapa Dia?
Bukan cerita baru bahwa pada masa menjelang pemilu ada calon anggota badan legislatif yang mengalami depresi berat karena terlilit hutang. Sebagian dari orang macam begini bisa jadi mencari solusi dengan bujuk rayu kepada tokoh agama supaya membantu problem finansialnya, juga dengan penjelasan bahwa ia tidak lagi percaya pada agamanya dan mau mengikuti agama tokoh yang dirayunya. Orang mengejar Allah karena apa yang dia pikir semestinya dikerjakan Allah daripada mencari Allah karena ‘karakter’ Allahnya sendiri.

Itu tak jauh berbeda dengan memilih pemimpin berdasarkan program-program yang ditawarkannya.
Wue’ e’ e’ eeeee, Romo ini bagaimana, lha justru proses politik yang dewasa itu kelihatan dari bagaimana orang beradu program je!
Haiya, pancèn, tapi apa bênêr êlu-êlu, gué dan mereka sudah dewasa dalam politik? Itu baru satu soal. Yang lainnya, program itu mah salin tempel dari mana aja juga bisa. Lalu, kalau adu program itu dimenangkan oleh calon pemimpin A, belum tentu pemimpin A itu sendiri memang mampu atau mau melaksanakannya! Gimana coba, orang yang sudah bekerja betulan dan target tak tercapai saja disebut ingkar janji, piyé nèk pemimpinnya punya program keren dan tak mengeksekusinya? 

Kata-kata bijak, program yang baik, nasihat yang baik, bisa dikatakan oleh siapa saja, tetapi kekuatan nasihat dan lain-lain itu berasal bukan dari kata-katanya sendiri, melainkan dari karakter orang yang mengatakannya. Kalau hal ini disangkal, orang memelihara mentalitas atau spiritualitas kerumunan: mencari Allah karena apa yang diberikan-Nya lebih daripada mencari-Nya karena Dialah karakter yang pantas dicari. Maka, untuk pemilu kali ini, saya kok tetap keukeuh bahwa sebaiknya orang melihat karakter calon pemimpinnya daripada kecanggihan presentasi program dan kampanyenya.
Idealnya gitu, Rom, di lapangan mentalitas kerumunan itulah yang akan menentukan.
Betul, itu mengapa saya tidak menempatkan diri sebagai juru kampanye.

Teks hari ini menampilkan Guru dari Nazareth di tengah-tengah kerumunan ribuan orang. Rasa-rasanya ini adalah momen ketika dia berada di puncak popularitasnya dan begitu banyak orang menjadi pengikutnya, rela menahan rasa lapar, berjalan jauh, dengan spiritualitas kerumunan tadi. Mereka menangkap bahwa Guru ini adalah sosok Mesias yang dinantikan bangsa Israel begitu lama. Akan tetapi, mau gimana lagi ya, namanya juga mentalitas kerumunan, paham Mesias mereka begitu dangkal. Kembali lagi ke kalimat awal tadi: mereka mencari Mesias karena apa yang diberikannya, lebih daripada karena pengertian mendalam mengenai Mesias.
Maksudnya gimana sih, Rom?
Bukan tidak mungkin, pada masa kolonialisasi, kumpulan ribuan orang (pada zaman itu) terasosiasikan dengan gerakan politik. Memang sebagian followers Guru dari Nazareth itu ya ada yang punya agenda politik untuk melawan kolonial. Tetapi Guru dari Nazareth ini bukan pemimpin politik. Dia mengajari orang supaya pada gilirannya memiliki karakter yang cocok, antara lain, sebagai pemimpin politik: memakai keterbatasan sumber daya supaya semua orang yang membutuhkannya bisa mengaksesnya.

Tuhan, mohon rahmat kejernihan hati untuk berani keluar dari mentalitas kerumunan. Amin.


SABTU BIASA V C/1
16 Februari 2019

Kej 3,9-24
Mrk 8, 1-10

Posting Tahun B/2 2018: Tanpa Hati Tak Happy 
Posting Tahun A/1 2017: Sabar

Posting Tahun B/1 2015: Hari Kasih Sayang nan Halal
Posting Tahun A/2 2014: Possibility of the Impossible

3 replies

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s