Tanpa Hati Tak Happy

Masih lanjut bahasan kartu kuning Asmat kemarin, saya hendak menyitir pernyataan salah seorang mahasiswa kedokteran yang pernah PTT di Papua seperti dituliskan pada link ini: Melayani di Papua itu, menurut Yafet, kalau tak ikut menggunakan hati sulit. Apalagi kalau sekedar money oriented, pasti bakalan dongkol dan menggerutu dalam bekerja sehari-hari.

Menggunakan hati itu disinggung juga dalam teks bacaan hari ini: Hatiku tergerak oleh belas kasih. Itulah yang dimaksud sebagai compassion, yang biasanya diasosiasikan dengan Buddhisme dan memang Buddhisme sangat akrab dengan wisdom dan compassion. Karena ini bukan blog mengenai Buddhisme, baiklah kembali lagi ke narasi teks hari ini: karena tergerak oleh belas kasih, Yesus mengutarakan keadaan yang diobservasi langsung, bukan dari koleksi buku perpustakaan. Tiga hari mengikuti gerombolan Yesus, tak punya makanan. Kalau disuruh pulang, sebagian tentu akan pingsan sebelum sampai rumah karena ada yang datang dari Jakarta #eh dari jauh. Cuma ada tujuh roti dan beberapa ikan pada mereka. Untuk empat ribu orang? Hmm…. ini mah khayal doang, dongeng.

Saya tak ambil pusing apakah cerita itu khayal bin dongeng atau sungguh terjadi karena poinnya bukan apakah itu sungguh terjadi atau tidak, melainkan apakah cerita itu punya relevansi bagi hidup saya. Istilah sulitnya apropriasi. Bukankah tak sedikit orang ndableg yang mendengar kisah nyata tetapi tak memetik apa-apa dari kisah nyata itu selain sebagai konsumsi curiosity bin kepo belaka? Di lain pihak, ada saja orang yang menyukai film dongeng tetapi karena punya kapasitas untuk mengapropriasi tadi, cerita tak nyata itu malah ternyatakan dalam hidupnya. Njuk apa relevansi cerita dalam teks bacaan hari ini sih? Ya mboh, untuk tiap orang bisa berbeda.

Tujuh roti dan beberapa ikan untuk empat ribu orang jelaslah lebay. Pada kenyataannya malah bisa jadi empat ribu orang butuh enam ribu roti. Akan tetapi, mari lihat bagaimana cerita itu bisa terjadi: dengan compassion dan wisdom sebagai pemantik, dimodali ucapan syukur dan berkat, Yesus memungkinkan tujuh roti dan beberapa ikan itu cukup untuk empat ribu orang. Compassion dan wisdom jadi ilahi sekaligus insani. Insani karena Yesus kontak dengan kebutuhan manusiawi. Ilahi karena Yesus kualitas itu diperoleh dari relasi fitrah dengan Allahnya. Relevansinya?

Seperti dikatakan Yafet tadi, kalau tak menggunakan hati, melayani di Papua itu akan jadi sulit. Apakah menggunakan hati itu cuma relevan untuk pelayanan di Papua dan memberi makan empat ribu orang tadi? Tentu tidak. Itu berlaku dalam ranah mana pun. Orang berbondong-bondong mendaftarkan diri untuk jadi PNS: dengan orientasi money, orang-orang ini cuma jadi parasit NKRI, tata kota amburadul, tata banjir ngalor-ngidul, tata ekonomi mobal mabul. Kerja tak sepenuh hati, tak happy, kerjaan tak rapi. Dituntut sedikit lebih baik malah ngomel dan bersyukur susahnya setengah mati. Apakah ini cuma berlaku untuk PNS? Tentu tidak. Ini berlaku bagi siapapun: tanpa hati, tak happy. Compassion dan wisdom memang menentukan bagaimana orang memaknai hidupnya.

Ya Allah, tambahkanlah kemampuan kami untuk bersyukur atas nikmat yang Kaulimpahkan kepada kami. Amin.


SABTU BIASA V B/2
Peringatan Wajib S. Skolastika
10 Februari 2018

1Raj 12, 26-32; 13, 33-34
Mrk 8, 1-10

Posting Tahun A/1 2017: Sabar
Posting Tahun B/1 2015: Hari Kasih Sayang nan Halal
Posting Tahun A/2 2014: Possibility of the Impossible

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s