Sabar…

Semakin sedikit yang kita punya, semakin banyak yang bisa kita berikan. Ini tampak absurd, tetapi begitulah logika cinta. Eaaa… ini bukan kata-kata saya, melainkan konon kata-katanya Mother Teresa dari Kalkuta. Ungkapan itu tak bisa dimengerti dalam level literal: orang punya modal dulu baru bisa bagi-bagi. Bukankah memang nemo dat quod non habetgak ada orang yang memberikan sesuatu yang tidak ia miliki? Orang mesti punya sesuatu dulu sebelum ia bisa memberikan sebagian atau keseluruhan sesuatu itu. Ini gampanglah dimengerti. Ya itu tadi, ini cara pandang literal. Logika cinta mengatasi pemahaman literal.

Jika orang mengamati seluruh alam ciptaan ini, akan ia temukan bahwa setiap ciptaan itu ‘memberi’ kebenaran dan kekudusan bagi ciptaan lainnya. Misalnya, tumbuhan memberikan oksigen yang diperlukan makhluk hidup dan mendapatkan karbondioksida dari makhluk hidup lainnya. Ada keseimbangan ciptaan yang memungkinkan kelangsungan hidup ciptaan itu sendiri. Cuma manusialah yang bikin kekacauan ciptaan itu di segala lini: material, spiritual, dan moral. Manusia itu cenderung tunduk pada egoisme yang diam-diam dan perlahan-lahan membuat bunuh diri massal.

Mungkin ada baiknya melihat adegan Yesus menyuruh orang banyak supaya duduk. Sekali lagi, ini bukan posisi duduk bersila seperti umumnya dilakukan di Jawa, melainkan recline yang merupakan posisi setengah berbaring yang biasanya diambil untuk pesta. Lha itulah, orang kelaparan tanpa makanan malah disuruh ambil posisi pesta. Tapi ya sudahlah, kita telisik saja itu posisi duduk macam ini. Apa sih pentingnya menyuruh orang banyak itu duduk di tanah? Dengan duduk semua di tanah, orang kuat tidak lebih tinggi pantatnya dari orang lemah (kecuali pas dapet gundukan tanah #halah), yang keras tidak memaksakan kehendaknya untuk mengalahkan yang lembut, yang sehat tidak merendahkan yang sakit, yang larinya cepat tidak lebih diistimewakan dari yang lambat.

Itu menarik juga dari sisi teologis: karunia diterima dari Allah; orang tidak memperoleh karunia atau pemberian Tuhan itu dengan kekerasan, dengan ketidakadilan, dengan penindasan. Dengan bersama-sama duduk, setiap orang secara sabar menanti karunia Allah yang diperlukan untuk mencukupkan dirinya. Itu mengapa kita tak bisa menerima bahwa karunia Allah dilecehkan untuk kepentingan politik praktis: kalau membela Allah berarti harus pilih paslon 1 2 3. Ini penistaan, pelecehan, kekerasan juga. Segala bentuk paksaan cenderung melawan kebijaksanaan ilahi. Lha iyalah, milih pelayan publik ya tolok ukurnya prestasi, pengalaman orang dalam menjadi pelayan publik dong, mosok atas dasar gagasannya tentang teologi? 

Ya Tuhan, mohon rahmat kesabaran untuk membiarkan Engkau menjadi Allah kami. Amin.


SABTU BIASA V A/1
11 Februari 2017

Kej 3,9-24
Mrk 8,1-10

Posting Tahun B/1 2015: Hari Kasih Sayang Nan Halal
Posting Tahun A/2 2014: Possibility of The Impossible

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s