Nyoblos Nomor Berapa Ya?

Sebagian orang menantikan dengan antusias untuk nyoblos, sebagian lainnya adem ayem dan menyerahkan hidupnya kepada mereka yang antusias nyoblos karena pikirnya hidup ini toh akan berjalan begitu saja, sama saja, yang punya kuasa ya bakal korup dan seterusnya. Barangkali yang kedua ini merupakan hasil rezim otoriter dulu yang membuat orang akrab dengan akrasia dalam partisipasi politiknya. Memang berubah itu tidak gampang. Saya juga mesti memaksa diri untuk ikut nyoblos, hahaha…

Bacaan pertama hari ini merupakan undangan Allah yang mengingatkan orang bahwa dalam hidup ini orang perlu tahu bagaimana memilih. Hidup itu cuma terdiri dari rentetan keputusan atas aneka pilihan. Melek di pagi hari sudah mesti memutuskan untuk merem atau bangun. Mandi, jogging, sarapan, atau masak, dan seterusnya. Tidak ada netralitas dalam hal ini, semua orang mesti punya pilihan. Kalau sampai salah pilih, celakanya bisa sampai tujuh turunan [Lha iyalah, soalnya kalau sampai orang bersih terpilih, bisa-bisa simpanan kotor untuk tujuh turunan itu dibongkar abis! O o ya o ya o ya bongkar! #ehkemarinudahyamaap].

Pertanyaannya: bagaimana orang menentukan kriteria pilihan? Untuk orang Yahudi jelas sekali: hukum agama. Ini terlihat misalnya dalam Mazmur 119: Berbahagialah orang-orang yang hidupnya tidak bercela, yang hidup menurut Taurat TUHAN. Sayangnya, mereka salah paham terhadap Yesus dkk yang memberi kesan mbalelo terhadap hukum agama. Wajar saja, orang membandingkan perilaku Yesus dkk dengan apa yang tersurat dalam hukum Taurat. Bisa jadi para pakar agama menuduh Yesus menista hukum Taurat, hendak mengubah atau menghilangkan ayat-ayat hukum Taurat itu.

Bacaan ketiga hari merupakan penjelasan Yesus yang begitu keras: tak satu ayat pun ia utak-atik karena ia justru hendak menggenapi ratusan ayat hukum Taurat itu. Bagaimana menggenapi hukum Taurat kalau ayat-ayatnya dilanggar ya? Kontradiktif dong!
Ya enggaklah, kontradiktif itu kalau cara berpikirnya cuma satu level, satu paradigma, satu sudut pandang doang. Hukum Taurat jelas menuliskan aneka macam aturan tetapi aturan itu ada level-levelnya sebagaimana undang-undang juga ada tingkatannya. Lucu gak sih kalau dokter laki-laki yang mesti memberikan bantuan pernafasan kepada perempuan dalam situasi genting tidak mau melakukannya karena perempuan itu bukan istri atau keluarganya? Mestikah petugas pemadam kebakaran laki-laki, alih-alih menggendong perempuan yang terjebak dalam kebakaran hebat, menyorongkan kayu mendorong perempuan itu supaya lompat dari jendela?

Anehlah kalau adat istiadat sopan santun ditempatkan lebih tinggi dari nyawa orang lain. Ternistalah agama jika aturannya hendak dipaksakan terhadap seluruh manusia. Aturan agama tak bisa ditempatkan pada puncak kemanusiaan. Mereka yang protes terhadap Yesus dkk yang suka melanggar itu rupanya tak bisa membuka mata terhadap kenyataan tingkatan aturan ini. Mereka membaca yang tersurat tetapi tak mengerti yang tersirat. Itulah yang dikatakan Paulus dalam bacaan kedua: kriterianya bukan hukum agama, melainkan hikmat Allah. Hikmat Allah itu tak terdapat dalam apa yang tersurat, melainkan apa yang tersirat. Di situlah problemnya: membaca apa yang tersirat dalam hukum agama.

Maka, kelirulah pilihan untuk nyoblos nomor dua karena sentimen agama, sekeliru pilihan untuk tidak nyoblos nomor dua karena sentimen agama. Lha ini kan emang bukan pelajaran agama!

Ya Allah, mohon pengertian hikmat-Mu. Amin.


HARI MINGGU BIASA VI A/1
12 Februari 2017

Sir 15,15-20
1Kor 2,6-10
Mat 5,17-37

Posting Tahun A/2 2014: Faith from Within

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s