Konstitusional Sih, Tapi…

Ada orang yang memilih sesuatu sejauh kemampuan subjektifnya. Maksud saya, ia mau melakukan sesuatu sejauh menurut dirinya sendiri ia mampu melakukannya. Kalau menurut perhitungannya ia tidak mampu, ia takkan melakukannya. Ada orang lain yang tidak berpikir apakah ia mampu atau tidak, yang penting ia melakukan sesuatu yang memang harus dilakukan. Artinya, dewanya adalah hukum, entah hukum moral, hukum sipil, hukum adat, atau hukum agama. Yang lain lagi memilih bertindak seturut hukum Tuhan. Nah, ini bagian tersulit karena orang cenderung jatuh pada kekeliruan menyamakan hukum Tuhan dengan hukum agama. Di sini dibutuhkan keberanian untuk menentang kecenderungan itu.

Tipe orang pertama memberi porsi besar kepada subjektivitasnya. Ia mengukur segala sesuatu menurut ukurannya sendiri, dengan rasionalisasi yang disokong oleh kompleksitas perasaannya (minder, percaya diri, takut, ekshibisi, dll). Penilaian objektif tak digubrisnya karena ia berkubang dalam dunianya sendiri. Sebaliknya, tipe orang kedua memberi porsi sedemikian besar kepada objektivitas karena ukuran kebenarannya diletakkan di luar dirinya. Pokoknya apa saja yang menurut orang lain benar, termasuk hukum, itulah yang harus dijalankan. Penilaian subjektif harus menyesuaikan hukum objektif itu. Orang jadi heteronom, kehilangan otonominya bahkan atas dirinya sendiri.

Tipe orang ketiga mempertimbangkan porsi orang pertama dan kedua tadi persis karena ia meletakkan iman personalnya kepada Pribadi yang tak bisa dikungkung oleh hukum buatan manusia, termasuk hukum agama. Orang ketiga ini tetap jeli untuk melakukan cross check apakah yang disodorkan hukum agama itu memang memanifestasikan hukum Tuhan. Ia sadar betul bahwa hukum Tuhan tidak tersurat dalam huruf, tetapi tersirat di dalamnya dan untuk membacanya diperlukan hati yang tak bisa direduksi sebagai perasaan subjektif.

Karena sadar bahwa Tuhan tak bisa diobjekkan, ia menaruh perhatian objektivitas hukum tanpa membiarkan dirinya kehilangan otonomi. Perhatian terhadap dua kutub inilah yang senantiasa menempatkan orang dalam tegangan dan cara dia menghadapi tegangan itu adalah dengan melibatkan imannya. Orang macam ini punya kemampuan untuk memilah-milah mana lahan politis, mana ranah kemanusiaan, mana wilayah agama, dan keputusan macam apa yang kiranya memuliakan Allah di dunia ini.

Runyam kan untuk masuk ke tipe orang ketiga? Membayangkannya juga susah. Lha iyo pancen, itu mengapa tak banyak orang yang sungguh beriman [bahkan meskipun beragama]. Kalau tidak jatuh pada pembenaran diri sendiri, orang terjerembab pada hukum agama, dan tidak sungguh sampai pada pengalaman perjumpaan dengan Allah yang membuatnya tetap happy dan damai bahkan dalam memutuskan hal-hal yang sulit. Orang cenderung mengambil keputusan yang gampang: asal menurut diriku oke atau asal cocok dengan konstitusi. Dari situ muncul otoritarianisme (apa maukulah) atau manusia robot (apa kata hukumlah). Orang beriman melampaui keduanya.

Tuhan, semoga kami semakin memiliki keterbukaan bagi kehendak-Mu yang jauh mengatasi keterbatasan diri dan hukum buatan manusia. Amin.


SENIN BIASA VI A/1
13 Februari 2017

Kej 4,1-15.25
Mrk 8,11-13

Posting Tahun B/1 2015: Basic Attitude toward Conversion
Posting Tahun A/2 2014: Iri Hati Gak Boleh…Katanya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s