Tuhan Saja Bertobat

Untuk kesekian kalinya saya lupa adegan yang disodorkan bacaan hari ini. Maklum saya sudah tuwir, benar-benar gak ngeh bahwa ada kejadian murid-murid Yesus kelupaan membawa bekal roti sehingga mereka ribut dan kemudian ditegur Yesus. “Kamu itu murid macam mana ya, sudah diberi penjelasan berkali-kali tentang reading between the lines, melihat tanda-tanda zaman, ditambah contoh-contoh nyata berkenaan dengan penggandaan roti dan aku bilang hati-hati dengan ragi Farisi dan Herodes, kok ya masih mengira aku ribut soal roti?!”
Jangan-jangan Yesus ini sebagai guru tidak lebih sabar daripada Pak Unggul yang mengajari muridnya untuk mengucapkan ‘ke-Tuhan-an’ dan selalu jadi ‘kehutanan’! Yesus gregetan karena para murid itu tak juga mengerti nasihatnya untuk tidak mengikuti cara pikir kaku orang Farisi dan Herodes yang cuma ribet dengan hukum manusia tetapi tak sungguh mengandalkan Tuhan. Para murid ini bebal setengah mati sehingga tak bisa menarik kebijaksanaan praktis (phronesis) dari wejangan Yesus. Mosok iya si Yesus itu mesti menjadikan murid-muridnya robot dengan memerintahkan ini dan melarang itu, padahal prinsipnya sudah ditunjukkan berkali-kali? Tetapi ya gitu deh, namanya bebal ya meskipun diberi penjelasan toh susah juga melihat kenyataan secara jernih.

Keadaan sebaliknya ditunjukkan dalam bacaan pertama yang menggambarkan Tuhan secara antropomorfis. Tuhan sudah sampai ubun-ubun kejengkelannya karena hati manusia yang diciptakan-Nya itu cenderung selalu membuahkan kejahatan. Sampai dikatakan Tuhan,”Nyesel gue bikin manusia. Isinya cuma jahat sana dan jahat sini.” Kenyataan itu memilukan hati-Nya sehingga ia hendak berketetapan menghapuskan manusia dari muka bumi. Bukan cuma manusia, juga hewan dan binatang melata dan burung di udara! Hmmm… pantas sajalah ada sebagian orang yang menjuluki Tuhan sebagai dewa perusak juga.

Akan tetapi, namanya juga Tuhan, gak bisa dong kita kerangkeng dalam label buatan kita. Dia menyesal!!!
Apa yang membuatnya menyesal? Ia terbuka pada kenyataan bahwa masih ada manusia yang benar di hadapan Tuhan. Namanya Nuh. Kebenaran yang dihidupi manusia rupanya membatalkan azab Tuhan kepada dunia. Apakah itu berarti ketetapan Tuhan tadi dibatalkan sama sekali? Rupanya ya tidak. Dia masih memberi toleransi kepada Nuh dan kawan-kawan yang ada dalam lingkaran kebenaran. Sisanya, ancur ya ancur.

Penyesalan Tuhan memberi ruang kehidupan dunia, sedangkan pertobatan manusia mereorientasi perhatiannya pada hidup yang mengandalkan Allah. Ini jadi lingkaran ‘malaikat’: semakin manusia mereorientasi hidupnya kepada Allah, semakin Allah menyesali niat destruktifnya, semakin manusia diberi kehidupan. Tapi lingkaran ‘malaikat’ ini bisa jadi tergerus lingkaran setan, yaitu ketika manusia memilih untuk tetap bebal. Tahu sendiri deh gimana rasanya kalau ada ajakan jujur malah menimpali ajakan itu sebagai dendam politik! Kapan move on ya, Pak?

Ya Tuhan, mohon kerendahan hati untuk menelisik batin kami apa adanya di hadapan-Mu. Amin.


SELASA BIASA VI A/1
Peringatan Wajib St. Sirilus dan Metodius
14 Februari 2017

Kej 6,5-8;7,1-5.10
Mrk 8,14-21

Posting Tahun B/1 2015: Hatinya Mana?
Posting Tahun A/2 2014: You Miss The Point, Bro

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s