Mbok Dibuka Saja

Dinamika politik bangsa kita ini bisa bikin orang jengkel-jengkel gimana gitu karena pertarungannya melibatkan para mantan dan petahana yang dibumbui dengan komunikasi politik yang lucu via medsos atau blusukan. Yang satu mau menutup-nutupi, yang lain bisa jadi mau buka-bukaan (O, o, ya o, ya o, ya bongkar!). Jangan tanya siapa merepresentasikan apa ya. Bukan spesialisasi blog ini untuk mengulasnya.

Dua bacaan hari ini terhubung antara lain dengan kata ‘terbuka’. Bacaan pertama mengisahkan bagaimana Adam dan Hawa terbuka matanya setelah makan buah termahal (karena larang itu mahal, Brow, #halah), sedangkan bacaan kedua menceritakan bagaimana orang yang tuli dan gagap itu terbuka telinganya setelah dijamah Yesus. Menariknya: setelah mata terbuka, Adam dan Hawa malah menutup bagian tubuh yang lainnya, sebaliknya, setelah telinga terbuka, orang tuli itu bisa membuka mulut dan bicara baik-baik. Jadi, dalam perkara Adam dan Hawa, ujung-ujungnya adalah tutup-tutupan, sedangkan dalam kasus orang tuli dan gagap itu muaranya adalah buka-bukaan.

Gimana ceritanya ya kok ujung cerita Adam dan Hawa jadi tutup-tutupan? Itu bermula dari bisa-bisanya setan nan licik membuat perintah Allah jadi lebay: tentu Allah berkata semua buah pohon di sini jangan kamu makan, bukan? Karena Hawa meralat kata-kata ular (selagi masih bisa bicara) tetapi toh ada tambahannya: semua boleh kamu makan, tetapi pohon pengetahuan itu janganlah buahnya kamu makan dan raba, karena kamu bakal mati!

Sumber yang saya baca mengatakan bahwa teks Ibrani yang mengacu pada apa yang dipesankan Tuhan kepada Adam (dying you will die) itu tidak mengacu pada dua aspek kematian seolah-olah kalau orang mati secara rohani dia lalu akan (segera) mati secara fisik. Simpelnya, itu bukan soal bahwa orang berdosa lantas bakal mati karena kutukan dosa itu. Susunan teks itu cuma mau menekankan bahwa kematian itu pasti, bagaimanapun mau didefinisikan. Death is essentially separation. To die physically means separation from the land of the living, but not extinction. To die spiritually means to be separated from God. 

Baik kematian fisik maupun spiritual terjadi bersamaan dengan dosa dalam pandangan iman Kristiani. Jelas, alienasi fisik lebih gradual sifatnya; jarang terjadi orang berdosa njuk ujug-ujug mati, kecuali berdosanya beberapa detik sebelum peluru atau yang lain merenggut nyawanya. Omong-omong, kenapa makan buah pengetahuan itu disebut dosa ya?

Bukan tindakan makannya, Brow. Yang membuat tindakan itu dosa ialah ketidaktaatan Adam-Hawa terhadap perintah atau kehendak Allah. Tidak ada orang yang memiliki kebijaksanaan ilahi dengan cara menentang kehendak Allah. Tak berlaku sebaliknya: Yesus diminta orang banyak untuk menumpangkan tangan kepada orang gagap dan tuli. Ia malah menyendirikan orang sakit itu, lalu memprosesnya jauh dari kerumunan supaya penyembuhannya tidak rancu dengan mukjizat sebagai tontonan publik.

Ketaatan sejati kepada Allah rupanya membebaskan orang dan kiranya itu yang dialami Santa Skolastika yang diperingati hari ini. Dulu tak terbayangkan dalam benak saya orang bisa hidup dalam biara dengan aturan ketat. Tetapi, memang betul, ketaatan kepada Roh, itu sungguh membebaskan orang untuk terbuka dan itu menggembirakan.

Ya Allah, mohon kerendahan hati untuk taat pada kehendak-Mu. Amin.


JUMAT BIASA V A/1
Peringatan Wajib S. Skolastika
10 Februari 2017

Kej 3,1-8
Mrk 7,31-37

Posting Tahun B/1 2015: Dari Mana Datang Malu?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s