Markiza Hueks

Kemarin ada orderan untuk menulis tentang mantan artis idola saya: Marissa Haque. Ia bukan mantan presiden, melainkan mantan artis, tapi bisa jadi sekubu dengan mantan presiden baperian. Saya tak peduli apakah ia nanti mencoblos nomer DUA atau tidak, tetapi saya terkejut ketika membaca berita (entah hoax atau bukan) bahwa beliaunya ini melaknat-laknatkan calon nomer DUA. Aiiih…. andaikan calon nomer DUA itu memang laknat, apa bukannya lebih baik didoakan supaya mendapat ampunan Allah dan dengan demikian ternyatalah bahwa Allah itu maha pengampun dan penyayang (daripada berlagak jadi tukang santet dan mengundang Allah mempraktikkan keahlian-Nya menghukum orang)? Prihatin juga melihat ada orang yang menyodorkan Allah sebagai tukang jagal, penghukum. Markibo deh, atau markide (mari kita demo) aja ya sebelum dilarang Kapolri? Mungkin mendingan markiza: mari kita zalan-zalan

Kebetulan [apa ada kebetulan sih?]di medsos saya nongol update kawan yang memajang buku yang sedang dibacanya: Geography of Faith. Judul aslinya Man Seeks God. Kisah tentang orang yang zalan-zalan dari Tibet sampai Yerusalem, maka diberi subjudul: Pencarian Tuhan di Tempat-tempat Paling Religius di Dunia. Kebetulan juga [apa ada kebetulan juga sih?] bacaan hari ini mengisahkan orang yang zalan-zalan, dalam arti literal maupun alegoris. Yang literal ialah Yesus yang pergi ke daerah pagan (tak kenal Tuhan, kafir) dan seorang perempuan Yunani yang juga pergi ke tempat Yesus berada. Yang alegoris ialah perempuan itu zalan-zalan dari ranah kekafiran menuju ranah iman.

Apakah zalan-zalan itu berbuah? Ternyata iya, baik bagi Yesus maupun perempuan Yunani itu. Bagi Yesus, perjumpaan dengan perempuan Yunani itu menegaskan bahwa Allah yang Maha Esa itu hadir bagi siapapun, tanpa sekat sebagaimana kemarin sudah disinggung: yang sakral itu meresapi yang profan. Bagi perempuan Yunani itu jelas juga buahnya: anaknya sembuh. Sembuhnya si anak ini tak lepas dari ‘iman’ yang ditunjukkannya pada saat zalan-zalan tadi. Ia tahu bahwa si Yesus bisa mengusir setan dan ia percaya bahwa itu tentu berlaku juga bagi anaknya. Bahkan ketika si Yesus itu bilang bahwa misinya untuk bangsa terpilih, perempuan ini masih melihat kemungkinan lain yang lebih luas: bangsa yang tak terpilih pun mengalami dampak baiknya.

Alhasil, menarik juga: zalan-zalan literal itu memberi buah yang menggembirakan karena menggerakkan zalan-zalan iman. Konon si penulis Man Seeks God tadi memulai pencariannya setelah ditanyai perawat,”Sudahkah engkau menemukan Tuhanmu?” Seluruh zalan-zalannya tak membuahkan hasil jika tidak mengacu ke jawaban pertanyaan itu. Jadi, entah Yerusalem, Roma, Lourdes, Montserrat, Medinah, Tibet, New York, Meksiko atau tempat manapun yang sudah kita kunjungi, kalau itu tak menjawab pertanyaan ‘Sudahkah engkau menemukan Tuhanmu’, jadinya cuma hueks… Pun kalau perjalanan itu diberi label ziarah, kalau orang tak akrab dengan keterarahan batinnya kepada Allah, tetaplah hueks… Begitu pula halnya perjumpaan dengan tokoh-tokoh besar yang fotonya bisa dipajang pada dinding kamar, kalau cuma menambah ilusi atau kesesatan paham tentang Tuhan, jadinya ya tetap hueks.

Tuhan, mohon kejernihan hati dan budi untuk menangkap kehadiran-Mu dalam perjalanan hidup kami. Amin.


KAMIS BIASA V A/1
9 Februari 2017

Kej 2,18-25
Mrk 7,24-30

Posting Tahun B/1 2015: Tuhan Itu Orangnya Pendiam
Posting Tahun A/2 2014: Dosa Menjauhkan, Doa Mendekatkan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s