Tuhan Itu Orangnya Pendiam

Pernah gak mencoba mendengarkan Tuhan dalam doa dan tidak mendengar apa-apa selain lamunan liar? Payah juga deh meluangkan waktu doa satu jam untuk doa dan wawancara batin memohon rahmat kesabaran tetapi gak mendengar suara apapun selain klakson kendaraan, suara hujan, tokek, dan lain sebagainya.

Bayangkanlah, seseorang dinasihati supaya ia bisa lebih sabar dan tidak grusa-grusu dalam menghadapi masalah. Ia meluangkan waktu untuk berdoa dan mohon jawaban Tuhan sendiri supaya bisa lebih tenang dan sabar tetapi dalam doa batinnya itu ia tidak mendengar suara Tuhan sama sekali! Setelah setengah atau satu jam duduk doa diam itu, ia frustrasi karena Tuhan tak bicara apa-apa.

Nah, dia lupa bahwa setengah atau satu jam yang dia lalui dalam doa itu justru tak mungkin terjadi kalau ia tak mendapat rahmat ketenangan dan kesabaran, seberapa pun kadarnya!

Bacaan kedua hari ini memberi kesan bahwa Yesus itu rasis (bukan narsis) dan fundamentalis! Dia masuk ke wilayah yang dikenal sebagai wilayah orang-orang kafir dan seorang perempuan mendekatinya dan minta supaya anaknya disembuhkan. Dialog dalam teks begitu singkat, tapi kejadiannya dulu mungkin tak sesederhana itu. Ada tawar menawar dan rupanya persis dalam suasana tawar menawar itulah Yesus sebenarnya menuntun perempuan itu untuk beriman.

Perempuan itu, karena dari wilayah kafir, tentu tak tahu menahu mengenai sosok nabi Israel yang most wanted. Ia pun tak peduli siapa nabi itu. Pokoknya, ia ingin anaknya sembuh. Jawaban pertama Yesus: gak sopan deh kamu, meminta nabi bekerja untuk orang yang bukan golongan umat yang percaya kepada Allah. Analogi yang dipakai Yesus lumayan keras (atau kasar ya?): gak luculah orang memberi anjingnya makan roti jatah anaknya! (Padahal sekarang ini makanan anjing lebih mahal daripada makanan orang, haha…)

Perempuan itu menjawab: pun dari roti jatah umat yang percaya itu, pasti ada sisa-sisa yang bisa diperoleh orang lain! Pada jawaban itu ada keterbukaan pada iman. Perempuan itu bukan umat Allah Israel, tetapi diam-diam mengakui bahwa Allah memang bisa memberi dampak pada hidupnya. Pengakuan itu saja sudah cukup untuk membuka keluasan hati Allah, dan sembuhlah anak si perempuan kafir itu.

Dalam diam-Nya, pada saat manusia bergumul dengan kesulitan hidup, Ia sedang menyiapkan hati manusia untuk kembali kontak dengan-Nya.


KAMIS BIASA V B/1
12 Februari 2015

Kej 2,18-25
Mrk 7,24-30

5 replies

    • Om Alf, sumonggo. Selepas menuliskan refleksi ini saya ke rumah sakit menjumpai seorang kawan yang akhirnya masuk ICU… saya pun terdiam di depannya, mencerna bagaimana pada usianya yg tidak muda itu pun ia tetap bergumul dengan kepasrahan… Sudah begitu pun ia masih berusaha menghibur kami yang menjenguknya, ck ck ck….

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s