Dari Mana Datang Malu?

Bacaan pertama kemarin ditutup dengan kalimat: mereka keduanya telanjang, manusia dan istrinya itu, tetapi mereka tidak merasa malu. Sedangkan bacaan pertama hari ini diakhiri dengan: ketika…mendengar bunyi langkah Tuhan Allah, bersembunyilah manusia dan istrinya itu terhadap Tuhan Allah di antara pohon-pohonan dalam taman. 

Apakah memang begitu kejadiannya? God knows. Saya sih tidak yakin begitu kejadiannya (lha wong Tuhan Allah itu mahatahu kok, mau sembunyi gimana?!). Kitab Suci bukanlah melulu buku sejarah, apalagi buku sains dan teknologi. Kitab Suci dituliskan dalam terang iman para penulisnya yang hendak menguak misteri kehidupan ini.

Dari teks bacaan pertama hari ini dan kemarin ditunjukkan bahwa kemaluan manusia pertama tidak datang dari ketelanjangan, tetapi dari pengetahuan baik buruk. [Sebetulnya sih tidak persis kemaluan, melainkan ketakutan; tapi teks hari ini belum bicara soal ketakutan. Jadi, anggaplah kemaluan itu bergandengan dengan ketakutan]

Orang yang berpengetahuan moral, memiliki kans lebih besar untuk menjadi malu dan takut melakukan sesuatu yang tidak baik (karena pada dasarnya orang menginginkan kebaikan). Maka, jika orang berbuat jahat tanpa takut dan malu, besar kemungkinan orang ini tak berpengetahuan moral. Ini bukan semata soal korupsi dan konspirasi di level elite politik, melainkan juga soal dengan santainya orang membuang sampah dari mobil atau menyerobot jalur pedestrian untuk bisnis bebas pajaknya. Yang lebih menjijikkan dari itu ialah mereka yang menjadi pegawai negeri untuk cari duit tanpa orientasi pada pelayanan kepentingan publik.

Inspirasi dari bacaan kedua mengundang orang supaya membuka telinga, juga telinga hatinya. Bagaimana? Orang tuli dan gagap itu dipisahkan dari keramaian. Tuhan menyembuhkan orang dengan terlebih dulu mengeluarkan orang dari jerat keramaian yang bisa mengacaukan fokus seseorang. Penyembuhan terjadi bukan dengan cara menyembunyikan diri dari Tuhan, tetapi dengan detachment terhadap hiruk pikuk keramaian: pun kalau fisiknya tak membaik, jiwanya tak tergalaukan oleh dunia nan sensasional yang rentan hoax.

Ya Allah, mohon kebeningan hati supaya kami tak diperdaya oleh aneka hoax yang menjauhkan kami juga dari-Mu. Amin.


JUMAT BIASA V B/1
13 Februari 2015

Kej 3,1-8
Mrk 7,31-37

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s