Masih Bisa Bernafas?

Dalam sebuah karya sastra dari Persia abad ke-13 (Gulistan of Sa’di), Sheikh Muslih-uddin Sa’di Shirazi menuliskan teks yang terjemahannya begini: Aku tak pernah mengeluhkan berganti-gantinya waktu atau berkeluh kesah atas tikungan-tikungan nasib kecuali saat aku bertelanjang kaki dan tak bisa mendapatkan sandal. Akan tetapi, ketika masuk masjid agung Kufah dengan hati yang luka [yaéla Mo, apa gada terjemahan lain sih?] dan memperhatikan seseorang tanpa kaki, aku bersyukur atas berkat karunia-Nya, menghibur diri atas hasrat keinginan akan sandal itu dan berujar,”Ayam panggang bagi orang kenyang tak lebih berharga daripada dedaunan segar [salad mediteran?] di meja dan bagi orang yang tak punya kuasa, lobak bakar [saja] jadi ayam panggang.”

Barangkali dari situlah sekian abad kemudian muncul ungkapan: I cried because I have no shoes until I met a man who had no feet. Ungkapan itu mungkin merangkum jawaban persoalan mengapa kalau Allah mahabaik, Dia membiarkan adanya penderitaan di dunia. Sulitlah mengatakan bahwa Allah menginginkan penderitaan manusia (bencana, malapetaka, kejahatan, kehancuran, penyakit) semata karena de facto manusia menderita. Ada banyak penjelasan yang bisa diberikan mengenai penyebab penderitaan manusia. Akan tetapi, barangkali di pihak penderita, pelajaran boleh ditarik dari orang kusta yang mendekati guru dari Nazareth. Ia mengungkapkan keyakinannya bahwa kalau mau, guru itu bisa menyembuhkannya.

Analog dengan itu bisa juga dikatakan bahwa kalau Allah mau, tentu semua penderitaan di muka bumi ini bisa dilenyapkan. Si kusta itu ‘beruntung’, sang guru menjawab mau. Apakah berarti penderita lainnya ‘tak beruntung’ karena tak berpapasan dengan Tuhan yang menjawab mau?
Nasib untung, nasib malang, siapa yang tahu? Begitu kata Tony de Mello. Alih-alih mempersoalkan nasib untung-malang, penyebab penderitaan, biang kerok bencana alam, kiranya lebih bijak memahami satu hal: luka dan penyakit adalah pedagogi kehidupan bagi mereka yang menangis karena problem dan kesulitan hidup. Bagaimana bisa jadi pedagogi? Karena ternyata problem dan kesulitan hidup yang ditanggungnya bukanlah problem dan kesulitan hidup yang paling menyengsarakan atau paling penting bagi seluruh semesta ini.

Kembali ke Gulistan of Sa’di tadi, ini bukan soal bahwa orang merasa lega karena ia tidak mengalami penderitaan yang lebih fatal seperti dialami orang lain, tidak mengalami kecelakaan seperti dialami penumpang bis anu, dan seterusnya. Ini adalah soal bersyukur atas apa yang kita miliki lebih daripada menggerutu atau mengeluh atas hal yang tak kita miliki. 

Dalam kontemplasi saya, orang kusta tampak ‘matang’. Ia sudah fasih dengan hukum Yahudi sebagai orang najis, tetapi ketika bertemu dengan si guru dari Nazareth itu, ia bersimpuh di hadapannya dan minta bantuan bukan dengan paksaan, melainkan dengan menyatakan imannya tadi: aku percaya kalau engkau mau, engkau bisa menyembuhkan aku. Penyembuhan tidak bergantung pada kemampuan Allah (yang diandaikan begitu saja), tetapi pada kemurahan hati-Nya. Maka, berfokus pada kemurahan hati Allah, dan karenanya orang bisa bersyukur, jadi jauh lebih penting daripada meributkan kemampuan-Nya dan sibuk dengan penilaian bahwa Allah itu bla bla bla. Kalau gagal fokus, adanya cuma iri, syak wasangka, niat jahat, persekusi, yang bisa membahayakan NKRI (hahaha NKRI melulu nih!).

Tuhan, mampukanlah kami bersyukur karena nikmat-Mu. Amin.


HARI MINGGU BIASA VI B/2
11 Februari 2018

Im 13,1-2.44-46
1Kor 10,31-11,1
Mrk 1,40-45

Posting Tahun 2015: Di Mana Political Will?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s