Godaan Yang Membahagiakan

Saudara-saudaraku, anggaplah sebagai suatu kebahagiaan, apabila kamu jatuh ke dalam berbagai-bagai pencobaan, sebab kamu tahu, bahwa ujian terhadap imanmu itu menghasilkan ketekunan dan biarkanlah ketekunan itu memperoleh buah yang matang, supaya kamu menjadi sempurna dan utuh dan tak kekurangan suatu apa pun.
Itu bukan sapaan saya kepada Anda, juga bukan nasihat saya untuk Anda [saya mah apa atuh]. Saya kasih tau rahasia tapi jangan bilang ke siapa-siapa ya [karena capèk dong ke siapa-siapa bilang rahasia itu, Anda pasti tak sanggup, kecuali Anda mesin Dilan #halahdibahas]: itu dari Kitab Suci orang Kristen. 

Apakah itu berarti Kitab Suci ditujukan kepada orang Kristen? Iya. Apakah pesannya hanya berlaku bagi orang Kristen? Tidak. Kalau begitu Kitab Suci Kristen bisa dipakai orang non-Kristen juga dong? Iya. Berarti Krèstênisasi dong? Tidak.
Lah, piye sih Mo dari tadi cuma iya tidak iya tidak?
Abis gimana dong?
Saya kasih pesan aja deh: jangan bawa-bawa agama kalau Anda mau bakso[s] #ehmaaps kalau Anda mau baca Kitab Suci! Fokuslah pada relasi Anda dengan Tuhan yang bersemayam dalam hati [rasa, pikiran, kehendak, imajinasi] yang terbuka, yang terus diuji kepentingan universal yang mengatasi agama. Maka, sekali lagi, jangan bawa-bawa agama, yang sudah telanjur jadi konstruksi sosial, tetapi bawalah hati yang terbuka. 
Kalau hati yang dibawa, tak peduli siapa penulis nasihat tadi, pesannya bisa klop bagi siapa saja yang berkehendak baik menemukan kebenaran.

Teks hari ini mengisahkan pertemuan guru dari Nazareth dengan orang-orang beragama dengan hati tertutup yang cuma hendak mencobai si guru dan meminta kepastian. Padahal, jelaslah, dalam hidup beriman, kepastian adalah ilusi. Itu mengapa si guru meninggalkan orang macam begitu. Kepastian hukum bolehlah diupayakan demi hidup bersama, tetapi kepastian iman justru menghancurkan kualitas iman itu sendiri. Kalau segalanya pasti, tak ada lagi tempat bagi ungkapan seperti insha’Allah, tak ada lagi kerendahan hati sebagai makhluk Sang Khalik. 

Ini bukan soal bahwa tidak ada Kebenaran pasti yang hendak dikejar setiap insan, melainkan soal keterbatasan perspektif orang dalam menangkap Kebenaran itu.

Memaksakan diri sebagai pihak yang memegang Kebenaran hanya akan berujung pada kekerasan yang jadi komoditas empuk bagi orang yang bersyahwat politik dahsyat. Lagi-lagi menjelang tahun politik, agama bisa jadi kendaraan untuk merekrut orang-orang culun dalam beragama dan memanfaatkan mereka jadi mesin teror.

Orang-orang culun ini tak mengerti apa yang mesti diperbuat di dunia sini sehingga pikirannya cuma di dunia sono sementara di dunia sini cuma menanti perintah. Ia yakin dengan kepastian 100% bahwa ia telah mengakses the Truth padahal senyatanya ia nemplok  pada tembok hitam-biru dan tak pernah jumpa dengan mereka yang nemplok pada tembok hitam-oranye. Sekalinya jumpa, ya main pedang-golok-pentung. Mereka tak tergoda untuk menikmati perjumpaan yang membahagiakan, yaitu perjumpaan dalam indahnya pelangi kebhinnekaan, dalam keragaman, Mungkin buta warna, tetapi lebih mungkin lagi buta cinta, eaaaaa. Orang culun rupanya tak tergoda cinta yang membahagiakan.

Tuhan, lindungilah bangsa kami dari prasangka berbau SARA dan berilah kami keberanian untuk membuka diri bagi perjumpaan dengan yang lain. Amin.


SENIN BIASA VI B/2
12 Februari 2018

Yak 1,1-11
Mrk 8,11-13

Posting Tahun A/1 2017: Konstitusional Sih, Tapi..
Posting Tahun B/1 2015: Iri Hati Gak Boleh…Katanya
Posting Tahun A/2 2014: Basic Attitude toward Conversion 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s