Ke Asmat Ah…

Ketika saya berkesempatan tinggal di tanah Papua, cuma untuk sebulan, saya bertemu seorang pastor yang sudah sekian puluh tahun tinggal di Asmat. Bisa saya bayangkan bagaimana banyaknya nyamuk di sana dan kok ya bodohnya saya tanya apakah di sana banyak nyamuk penebar malaria. Katanya di sana itu kita tinggal mengoles begini saja (sambil dia tirukan gerak mengoles lengan tangan kanan dengan telapak tangan kiri dan sebaliknya). Bayangan saya, itu mengoles semacam lotion atau cairan pengusir nyamuk. 

“Bukan, Pater. Kita tinggal usap saja nanti kan nyamuk-nyamuk itu mati.” What??????
“Wah mereka pesta minum dong?” tanya saya masih dalam keterkejutan.
“Itu sudah!”
“Lalu apa gak kena sakit malaria?”
“Oh memang ada dua kemungkinan, Pater. Tak kena malaria atau mati saja.”

Saya geleng-geleng kepala dan sekaligus kagum pada pastor ini yang sekian lama membaktikan dirinya untuk melayani warga Asmat. Mohon dicatat, saya tidak kagum atas hal-hal baik yang dia lakukan, akan tetapi ketulusannya mengabdikan diri bagi orang lain di daerah sulit. Tentu ada orang selain pastor ini yang memiliki ketulusan hati yang muncul dari compassion dan kepada mereka semua saya angkat topi: dokter, mahasiswa kedokteran yang memilih PTT di sana, tenaga pendidik, lembaga advokasi, dan sebagainya. 

Apakah mereka mampu mengatasi persoalan di Asmat? Pasti tidak. Apakah Presiden seorang diri bisa menuntaskan problem di Asmat dalam seminggu, sebulan, satu semester? Tentu tidak. Apakah seorang ketua BEM Universitas di Indonesia bisa mengatasi krisis gizi di Asmat? Aiiih cah kinyis-kinyis, bisanya tentu memberi kartu kuning dan sebetulnya memberi kartu kuning itu sudah cukup. Mosok memberi kartu kuning sudah cukup untuk mengatasi persoalan di Asmat sih, Mo? Saya juga gak bilang kartu kuning cukup mengatasi persoalan Asmat, tetapi tugas mahasiswa itu sebetulnya cukup memberi kartu kuning yang diperolehnya dari studi lapangan (bisa saja langsung ke Asmat) dan studi pustaka.

Teks bacaan hari ini mengisahkan penyembuhan orang tuli dan gagap dengan perintah supaya organ yang bikin tuli dan gagap itu terbuka. Ada baiknya juga sih ketua BEM universitas negeri itu mengeluarkan kartu kuning. Pertama, untuk dirinya sendiri supaya tahu diri kalau memberi kritik terhadap orang lain. Kedua, untuk presiden supaya tetap éling bahwa dia diperhatikan banyak orang. Ketiga, untuk banyak orang supaya terbuka bahwa NKRI kita benar-benar menyimpan persoalan, dan NKRI ini mesti diperjuangkan terus menerus. Tentu media berjasa besar memotret keadaan Asmat, tetapi kalau orang banyak sudah tuli dan gagap terhadap persoalan NKRI, potret itu hanya akan jadi komoditi untuk saling menjatuhkan.

Judul posting ini tidak merepresentasikan passion saya. Bisa dibayangkan kalau gara-gara kasus gizi di Asmat lalu berbondong-bondong orang ke sana untuk jadi juru selamat, mau jadi apa Asmat? Tak semua orang perlu ke Asmat, tetapi sekurang-kurangnya wawasannya terbuka, telinganya mendengar panggilan Tuhan yang suci lewat penderitaan sesama dan orang tahu di mana tempatnya dalam peta besar persoalan kemanusiaan ini. Asmat jadi destinasi pembuka kesadaran orang bahwa hidup ini terarah kepada yang lain, bukan kepada diri sendiri.

Tuhan, bukalah hati kami supaya semakin luas. Amin.


JUMAT BIASA V B/2
9 Februari 2018

1Raj 11,29-32; 12,19
Mrk 7,31-37

Posting Tahun A/1 2017: Mbok Dibuka Saja
Posting Tahun B/1 2015: Dari Mana Datang Malu?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s