Agama Mukjizat

Mengapa orang fanatik cenderung berilmu atau berpengetahuan dangkal? Mengapa semakin orang berilmu tinggi, semakin ia terbuka? Tentu tak bisa dibalik sebagai kesimpulan bahwa orang yang berpengetahuan dangkal itu fanatik. Kenyataannya, tidak semua anak SD fanatik. Ini bukan soal ilmu pengetahuan dalam arti sains (karena tak sedikit orang fanatik bisa bergelar doktor dalam teknik nuklir atau kedokteran), ini soal pengetahuan akan misteri kehidupan. Ini soal kebijaksanaan. Ini soal iman: semakin orang fanatik, semakin kentara kedangkalan imannya dan semakin orang beriman justru ia semakin terbuka pada kekayaan misteri hidup yang penuh keberbedaan ini.

Teks hari ini mengisahkan perempuan Yunani yang minta tolong guru yang bernama Yesus untuk mengusir setan dari anaknya. Kejadiannya di Tirus, kota di luar wilayah Israel, yang dipandang sebagai wilayah kafir. Semakin jauh dari Yerusalem, tingkat kesucian warganya semakin rendah; begitu kira-kira gagasan orang Yahudi pada zaman Yesus, dan Yesus tentu sadar betul akan hal itu. Maka, tak mengherankan reaksi Yesus terhadap permintaan perempuan Siro-Fenesia itu terasa keras, beraroma fanatik dan eksklusif.

Meskipun demikian, menariknya, perempuan Siro-Fenisia itu tetap menyodorkan perspektifnya yang lebih inklusif. Dari pihaknya, ada keyakinan bahwa berkat yang dibawa guru itu mestilah mengucur ke luar teritori yang dikonstruksikan secara sosial sebagai wilayah kafir, berapapun besar kecil kucurannya. Apa yang terjadi kemudian? Jreng jreng jreng!
Si Yesus tidak mengatakan,”Aku akan mengusir setan itu.” Ia mengatakan,”Karena kata-katamu itu, pergilah, karena setan itu sudah keluar.” 
Di situ digarisbawahi keyakinan perempuan Siro-Fenisia itu (bahwa berkat dari bangsa Yahudi juga bisa dinikmati orang non-Yahudi) dan keyakinan Yesus sendiri (bahwa setan itu memang sudah keluar).

Keyakinan iman membuka kran mukjizat. Orang kerap tak melihat mukjizat karena imannya disunat, jadi korup, dan rahmat tak bekerja penuh merambah segala wilayah. Apakah kran yang memungkinkan mukjizat itu jadi kenyataan? Apakah kunci pembuka rahmat Allah yang tertuju bagi segala makhluk-Nya?
Iya, Anda betul: kerendahan hati.

Dari pihak perempuan Siro-Fenisia itu dibutuhkan kerendahan hati untuk menerima konstruksi sosial yang menimpa dirinya dan mengemis kemurahan hati bangsa lain (yang mungkin saja arogan). Dari pihak Yesus sendiri dibutuhkan kerendahan hati untuk mengakui bahwa iman sedangkal apa pun tetap perlu disambut dan dipupuk baik-baik. Di sinilah kadang kelihatan aneh: orang lingkaran dekat Yesus malah jadi arogan, dan yang jauh darinya malah rendah hati. Ya itu tadi, orang yang diasumsikan beriman malah pethakilan gak karuan menyombongkan diri karena ada di lingkaran dekat si guru.

Kalau orang menginginkan mukjizat hidupnya, ia perlu belajar dari perempuan Siro-Fenisia ini: beriman dan meminta dalam kerendahan hati. The power of humility goes beyond every boundary. Tak banyak membantu kemanusiaan jika orang mengurung dirinya dalam sekat agama, agama macam apa pun itu. Gak percaya ya udah.

Tuhan, mohon rahmat kerendahan hati supaya kami mampu membuka misteri keagungan-Mu lewat segala makhluk. Amin.


KAMIS BIASA V B/2
8 Februari 2018

1Raj 11,4-13
Mrk 7,24-30

Posting Tahun A/1 2017: Markiza Hueks
Posting Tahun B/1 2015: Tuhan Itu Orangnya Pendiam
Posting Tahun A/2 2014: Dosa Menjauhkan, Doa Mendekatkan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s