Hatinya ke Laut

Dalam Kitab Suci Kristiani juga ada loh perintah untuk memotong tangan jika tangan itu menyesatkannya. Seturut perintah itu, kalau orang rajin mencuri dengan tangannya dan terkena OTT, tangannya memang mesti dipotong. Menariknya, ini baru saya dengar dari seorang profesor yang tadi memberi kuliah umum, ada tafsir baru yang saya sendiri tak pernah membayangkannya sebelumnya: tangan dipotong dan selang beberapa saat kemudian ahli medis segera melakukan replantasi, menyambungkannya kembali! Saya kira menarik juga ya tafsir itu, dan itu memang feasible karena dunia kedokteran sudah semakin canggih.

Meskipun demikian, apa relevansi hukuman seperti itu selain demi legalisme Kitab Suci belaka, demi terealisasinya tafsir letterleijk terhadap bunyi perintah Kitab Suci itu? Bikin kapok alias efek jera bin detterent effect (ya sebetulnya tak persis gitu sih terjemahannya)? Bisa jadi malah maling-maling semakin berani untuk menunjukkan keberaniannya dipotong tangannya. Di situ, tafsir letterleijk gagal menunjukkan suatu kitab disebut suci. Lha piye maning, memang yang membuat kitab jadi suci bukan rumusannya, bukan bahasanya, bukan pula tebal tipisnya, melainkan hati manusia beriman yang menjadikannya sarana untuk kontak dengan Hyang Suci (alias kontak dengan kedalaman dirinya juga) kok!

Setengah mati deh orang zaman now mengerti pembedaan antara faith dan religion dalam hidup konkretnya. Asal sudah beragama lantas diasumsikan beriman. Asal sudah menjalankan seluruh perintah agama lantas dianggap beriman. Asal sudah menerapkan hukum agama lantas dianggap beriman. Hmm….
Kalau mau jadi murid dari guru yang namanya Yesus (saya kira juga guru-guru lainnya sih), rasa saya orang perlu memahami bahwa ia diberi mandat untuk menyucikan hatinya sendiri dan hati orang lain. Dari hati itulah muncul segala kekotoran dan kebusukan, penyembahan berhala dan takhayul, kesombongan, dan sejenisnya. Seorang murid mesti selalu tahu bagaimana memisahkan apa yang masuk dan keluar dari hatinya, bukan dari perutnya.

Memang berguna memilah-milah mana yang perlu dimasukkan ke perut, tetapi lebih penting lagi mewaspadai apa yang masuk dan keluar dari hati karena di situlah bergantung masa depan kemanusiaan si murid itu. Tangan kotor yang mengambil makanan bisa bikin sakit perut, tapi rasa-rasanya tak ada orang yang sakit hatinya karena tangannya kotor. Tangan kotor takkan menginfeksi jiwa, takkan menginfeksi roh, kecuali kotorannya adalah seember racun tikus atau narkoba atau benda berbahaya lainnya. Akan tetapi, pun kalau tangan itu kotor oleh aneka racun tadi, dari mana datangnya kalau bukan dari hati yang luka (jadul banget sih Mo lagunya)?

Jadi, teks bacaan hari ini berguna supaya orang mawas diri pada yang substansial lebih daripada yang formal atau legalistik tadi (mosok iya sih potong tangan demi membela bahwa Kitab Suci tak bisa salah? Mana ada sih Kitab Suci yang bahas soal kartu kuning atau kartu merah, atau lampu lalu lintas, misalnya? Atau adakah Kitab Suci yang mbahas hujan itu harus diturunkan ke tanah dan tak boleh disalurkan ke laut? Ahahahaaaaa).

Ya Allah, berikanlah kepada kami kemampuan untuk menyucikan hati seturut kehendak-Mu. Amin.


RABU BIASA V B/2
7 Februari 2018

1Raj 10,1-10
Mrk 7,14-23

Posting Tahun A/2 2017: Bapernikus
Posting Tahun B/1 2015: Apa Yang Mencolot dari Hatimu?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s