House of Hoax

Omong-omong soal najis, saya teringat keterangan seorang santri mengenai daging babi. Dalam situasi kritis yang mengharuskan seorang makan dan yang ada hanya babi, maka babi itu tidak lagi haram, boleh saja memakannya, malah harus memakannya supaya tidak mati kelaparan. Yang dia tak yakin itu soal apakah makannya boleh pakai bumbu kecap atau bumbu Bali, hahaha…..

Teks hari ini mengisahkan para sesepuh agama Yahudi datang sidak terhadap bakti sosial #eh terhadap sepak terjang seorang guru di sekitar Genesaret. [Eh, omong-omong soal pembubaran bakti sosial yang dilakukan Gereja Katolik beberapa waktu lalu, saya sudah komentar sedikit ya bahwa saya sendiri akan membubarkan aksi seperti itu, tapi bukan karena alasan politis atau sentimen agama. Soalnya, bahkan kalaupun bendera agama tak dibawa, sebagaimana diusulkan Gubernur DIY, dan usulan itu tidak saya kritik, tetapi saya kritisi di sini, gesekan dengan kaum radikal itu tetap bisa terjadi kok. Lha wong namanya saja radikal, hambok tanpa bendera agama pun mesti akan dicari-cari persoalan, apalagi duit makin menipis, sampai ujung-ujungnya agama juga.] Betul saja, mereka menemukan persoalan: pengikut guru dari Nazaret ini makan secara najong! Maka mereka gertaklah guru itu dengan aturan agama.

Tapi ya begitulah, sebagaimana, katanya, ada ketua BEM yang mengkritik seorang presiden karena banyak pekerjaan belum dibuatnya, ternyata yang bersangkutan, katanya, malah nilai beberapa mata kuliahnya nol karena tak mengerjakan tugas, begitulah berlaku peribahasa menepuk air di dulang tepercik muka sendiri. Serombongan orang Farisi dan ahli Kitab Suci itu malah secara tak langsung membongkar kemaluan mereka sendiri #ehapapunyakemaluan.

Sang guru itu malah dengan gamblang memanfaatkan kritikan penuh nafsu itu untuk menunjukkan bagaimana orang munafik bisa dibutakan oleh kepentingan diri sehingga apa saja dipakainya untuk mengabdi kepentingan diri itu, termasuk sentimen agama. Orang (yang semestinya) bijak kehilangan kebijaksanaannya, orang (yang semestinya) intelek kehilangan intelektualitasnya. Mereka ini bukan cuma jadi culun, bodoh, bego’, dan sejenisnya, tetapi juga jadi tokoh agama yang licik, culas, serakah, dan sejenisnya. Mereka akan gemar hoax yang menguntungkan mereka dan mati-matian mewartakannya, tetapi kalau kepentingan culasnya terbongkar, mereka berpaling pada nilai-nilai kemanusiaan yang mereka sendiri tak menghidupinya.

Orang-orang macam begitu itu membahayakan NKRI, untuk tidak mengatakan kemanusiaan. Mengapa? Orang-orang begitu itu tak membiarkan Allah berdiam di atas bumi seperti diharapkan Salomo dalam doa mohon berkat bagi rumah Tuhan. Orang tahu bahwa rumah Tuhan zaman now adalah kedalaman hati orang,  inner quest, interiority yang menentukan pilihan-pilihannya. Di luar itu, di mana saja hati tak berperan, yang dipilihnya hanyalah hoax dan konstruksinya adalah rumah hoax dan celakanya bisa jadi orang beragama tinggal di rumah hoax. Kalau mau, silakan simak reportase BBC mengenai duduk bersebelahan dengan kafir di sini. Saya tak bisa memastikan kejadian itu sungguh terjadi, tetapi itu sangat mungkin terjadi, dan ini hanyalah simtom gerakan ideologis yang sangat membahayakan NKRI. Serius nih!

Ya Tuhan, bantulah kami untuk setiap saat connect dengan kedalaman hati kami, alih-alih ngotot dengan kepentingan diri egoistik kami. Amin.


SELASA BIASA V B/2
Peringatan Wajib S. Paulus Miki dkk
Februari 2018

1Raj 8,22-23.27-30
Mrk 7,1-13

Posting Tahun A/1 2017: Masih Salam Dua Jari?
Posting Tahun C/2 2016: Ad Maiorem Diri Gue
Posting Tahun B/1 2015: Citra Skolastika

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s