Direct Message

Pada zaman now ini, kerumunan tidak hanya berarti orang turun jalan untuk mendemo perayaan hari tetot seperti kemarin atau kumpulan orang yang bergabung dalam acara doa bersama, tetapi juga apa saja yang terpapar di dunia warganet. Tak mengherankan, reaksi kerumunan itu bisa sedemikian dahsyat karena satu dua kata atau kalimat yang diunggahnya via pengicau atau media sosial lainnya. Contoh kemarin adalah frase “presiden baru” yang dilontarkan bos huhahahak alias tetotdotcom. Entah jari atau pikirannya yang kepleset, cuitannya memang memancing reaksi kerumunan.

Mengenai kerumunan warganet ini sebenarnya ada hal yang menggelikan juga ketika tidak ada salah ketik atau ungkapan yang ngawur. Misalnya pada suatu grup kerumunan itu muncul ucapan selamat ulang tahun dengan jampi-jampinya yang aduhai, atau ucapan bela sungkawa yang menyentuh hati. Salah ketikkah? Tidak, cuma salah kamar. Piye jal, mengucapkan selamat ulang tahun atau dukacita ke kerumunan warganet, padahal yang ulang tahun atau kesripahan itu tidak connect dengan kerumunan warganet itu. Lucunya lagi, bisa terjadi orang yang ada dalam kamar grup itu begitu aktif menanggapi ucapan ke grup, tentu karena namanya disebut, tetapi malah tidak menanggapi DM yang diterimanya.

Contohnya saya sajalah, karena saya ini makhluk jadul yang tidak paham seluk beluk medsos yang namanya mirip obat tetes mata yang terukur dengan satuan berat gram [pancèn jadul tênan kok kowé ki, Rom, nyêbut instogram aja bertele-tele]. Entah apa yang terjadi dengan smartphone saya [lha rak tênan, sing disalahké smartphone, padahal dumb peopleé ya awakmu dhéwé, Rom], saya tidak punya notifikasi untuk direct message itu. Alhasil, baru sadar ada DM barangkali setelah pesannya kadaluwarsa. Akan tetapi, sebagai orang jadul, saya berpegangan: kalau memang sungguh penting, orang tentu akan cari cara lain untuk menghubungi saya, tidak bergantung pada kerumunan. Bisa jadi justru yang terlepas dari kerumunan itulah yang sesungguhnya dibutuhkan orang.

Teks bacaan hari ini mengindikasikan hal itu. Yang pertama menyodorkan bagaimana ular menggoda Hawa man to man, tidak pada saat Hawa bersama Adam. Yang kedua menampilkan bagaimana Guru dari Nazareth memisahkan orang yang tuli dan gagap dari kerumunan orang banyak, one on one. Jadi, cura personalis (baca: kura personalis, kira-kira berarti perhatian kepada pribadi) itu bisa baik dan jahat ya, Rom?
Oh, yang pertama tadi bukan cura personalis, itu hanya metode PDKT yang agendanya adalah mengusahakan supaya target ular tercapai. Yang kedualah yang bisa disebut sebagai cura personalis karena yang disasar di situ adalah kebaikan bersama melalui pendekatan pribadi. Insyaallah, lewat pendekatan personal ini lebih berbuah bagi transformasi kerumunan yang tak luput dari aneka macam kedunguan. Maklum, dalam kerumunan itu orang bisa gagal membedakan antara yang privat dan publik sehingga yang privat pun bisa jadi konsumsi publik. Yang begini lebih banyak melumpuhkan daripada menyembuhkan karena orang krasan tinggal di kedangkalan publik.

Tuhan, mohon rahmat untuk masuk ke kedalaman hati. Amin.


JUMAT BIASA V C/1
Peringatan S. Klaudius de La Colombiere SJ
15 Februari 2019

Kej 3,1-8
Mrk 7,31-37

Posting Tahun B/2 2018: Ke Asmat Ah…
Posting Tahun A/1 2017: Mbok Dibuka Saja

Posting Tahun B/1 2015: Dari Mana Datang Malu?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s