Cura Personalis

Anda pasti sudah pernah dengar anekdot seorang kakek yang pada dua puluh tahun terakhir dalam perkawinannya senantiasa memanggil istrinya dengan panggilan sayang “Darling“. Ketika seseorang menyampaikan rasa kagumnya pada romantisme sang kakek itu, jawaban yang diperolehnya agak mengejutkan,”Bukan apa-apa, aku tidak ingat lagi siapa nama istriku.”

Kisah hari ini menuturkan kebalikannya dan barangkali bisa jadi bahan pertanyaan reflektif bagi pembaca. Untuk saya terlalu menohok karena setiap kali orang menjumpai saya di tempat ‘asing’, mereka bisa memanggil nama panggilan saya tetapi tidak berlaku sebaliknya; setengah mati mencoba mengingatnya tetapi jarang berhasil. Begitulah nasib jadi romo. Semua orang tinggal menyapanya ‘Romo’ (karena pernah lihat di mimbar, pernah bersalaman sekali), padahal kalau dicecar terus belum tentu orang-orang tahu nama romo itu, haaaahahaha… eh, hiks hiks hiks. Tapi gapapa, mungkin itu karma untuk romo seperti saya yang kalau ketemu suster ya menyapanya dengan ‘Suster’ meskipun saya sebetulnya tak tahu itu Suster siapa, haaaaahahaha.

Maria terhambat oleh dukanya sendiri sehingga tak mengenali sosok guru dari Nazareth yang telah bangkit. Pribadi yang bangkit itu sendiri tidak memaksakan diri supaya dikenal,”Eh, gue dah bangkit loh!” Dia membuka kesadaran orang-orang dekat seturut kondisi yang bersangkutan. Di sini dikisahkan bagaimana ‘nama’ menjadi begitu krusial, menggugah kesadaran orang yang memiliki ‘nama’ itu. 

Sebagaimana Tuhan memanggil setiap orang dengan namanya masing-masing, begitu pula seyogyanya orang beriman atentif terhadap kemanusiaan sesama. Tidak gampang, apalagi di zaman now, yang menyediakan aneka macam perisai atau tembok kolektif bernama medsos. Saya misalnya, hampir selalu menyenggol orang yang ultah (menurut fesbuk) di wall saya, alih-alih menyampaikan ucapan ke wall yang bersangkutan atau inbox. Akan tetapi, barangkali memang begitulah kinerja media sosial, sekali dayung dua tiga pulau terlampaui.

Yang penting, orang beriman zaman now tetap perlu eling bahwa setiap orang punya kerinduan untuk diuwongké, diorangkan, dengan satu cara atau beberapa cara. Dalam bahasa Latin disebut cura personalis (bacanya kura personalis). Sekarang tinggal menentukan pilihan saja: hendak mengambil sudut pandang Maria yang terhalang oleh dukanya, atau sudut pandang si guru yang bangkit, yang memberikan cura personalis.

Tuhan, mohon rahmat supaya kami mampu menghargai setiap pribadi sebagai sesama peziarah menuju cinta-Mu. Amin.


SELASA DALAM OKTAF PASKA
3 April 2018

Kis 2,36-41
Yoh 20,11-18

Posting 2017: Update Status Dong
Posting 2016: Kutunggu Rindumu

Posting 2015: Resurrection: Spiritual Selfie

Posting 2014: Bangkit=Tobat

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s