Update Status Dong

Saya punya teman yang pernah dijuluki raja sambat alias raja mengeluh. Julukan itu di telinga saya tidak buruk karena saya tahu betul apa yang dibuat teman saya ini. Ia tidak mengeluh, ia cuma senang melontarkan ungkapan tangisan hatinya: sudah tua kok ya masih mesti melakukan pekerjaan ‘anak-anak’, sudah uzur kok ya masih ‘dipaksa’ bekerja bersama ‘anak-anak’ yang umurnya sedekade lebih muda darinya, dan seterusnya. Itu bagi orang lain yang tak mengenalnya hanya akan ditangkap sebagai keluhan.

Fokus penglihatan dan pendengaran saya tidak tertuju pada keluhannya. Saya melihat bagaimana ia punya kesungguhan dalam bekerja, bagaimana ia maksimal menjalankan tugasnya, tentu dalam keterbatasan dirinya. Itulah yang berbunyi jauh lebih keras di telinga saya daripada aneka macam ungkapan keluhannya. Ada bahkan teman lain yang keluhannya sungguh berarti indikasi kuat bahwa ia sedang memanifestasikan daya kritisnya. Artinya, dia hidup!

Bacaan hari ini menyodorkan kisah bagaimana Maria Magdalena dengan hati hancur menangis di wilayah makam Yesus. Tangisan ini tentu saja juga sebetulnya punya nuansa keluhan, tetapi yang tampak di mata saya lebih jelas ialah bagaimana dalam tangisnya itu ia tetap melakukan pencarian. Ini semakin dikuatkan lagi oleh apa yang dikatakan Kristus yang menampakkan diri itu: tak usahlah engkau menyentuh-Ku seperti yang sudah-sudah karena Aku sudah update status.

Dengan status baru Yesus itu, Maria tak bisa lagi memperlakukan Yesus seperti dulu, tetapi malah Maria mendapat tugas baru: pergilah sana temui saudara-saudara-Ku dan wartakanlah soal kebangkitan ini. Kata “saudara-Ku” ini menarik: bukan cuma saudaramu, melainkan juga saudara-Ku. Yesus yang statusnya update itu tetap ada dalam lingkaran relasi persaudaraan dengan Maria dan murid-murid lainnya. Ini juga diulangi lagi dalam pesan berikutnya: aku mesti pergi kepada Bapa-Ku dan Bapamu, Allah-Ku dan Allahmu. Lha, mine dan yours itu kan berarti milik kita, Bapa yang sama, Allah yang sama.

Warta macam itulah yang kiranya perlu lebih didengungkan daripada warta “Tuhanmu beda dari Tuhanku” alias “Kamu kafir”. Ini tidak hanya keliru secara filosofis-teologis, tetapi juga membahayakan pondasi kemanusiaan universal yang berdampak juga pada pilihan-pilihan politis. Ngeri deh kalau orang beragama tak pernah update status sehingga masih berpikiran bahwa agamanya (dengan segala detailnya) adalah agama paling super dalam semesta ini bagi semua makhluk sepanjang segala abad!

Tuhan, mohon rahmat-Mu supaya kami senantiasa mampu memperbaharui diri dan tidak berkubang dalam kebiasaan lama yang tidak sambung dengan cinta-Mu nan universal. Amin.


SELASA DALAM OKTAF PASKA
18 April 2017

Kis 2,36-41
Yoh 20,11-18

Posting 2016: Kutunggu Rindumu
Posting 2015: Resurrection: Spiritual Selfie

Posting 2014: Bangkit=Tobat

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s