Jumpa Allah Langsung? Gombal!

Pada akhir film PK disampaikan empat pesan PK kepada kawan-kawannya makhluk angkasa luar. Pesan terakhir dan paling penting ialah: kalau kamu bertemu dengan orang yang bilang dia bisa bicara langsung dengan Tuhan, gak usah teliti lebih lanjut, bergegas dan larilah sekencang-kencangnya dari dia. Ini bisa jadi skandal untuk agama Kristen yang mengakui Yesus Kristus sebagai Putera Allah. Kenyataannya, memang nasihat PK itu sudah dijalankan: karena menista Allah itu, Yesus disalibkan. Tak ada seorang manusiapun yang bisa menyamakan dirinya dengan Allah.

Saya tak akan nyinyir di situ karena urusan penistaan ini biasanya lebih bersifat politis, entah untuk kepentingan ekonomis atau religius. Posisi saya jelas: Yesus dari Nazaret tak bisa disebut Putera Allah tanpa kerangka paham Allah trinitarian dan trinitarian tidaklah sama dengan politeisme dalam kajian filsafat. Ujung-ujungnya ‘cuma’ soal terima kebangkitan Yesus dari kematian atau tidak. Tak ada satu instansi pun yang berhak memaksa orang untuk menerima kebangkitan Yesus.

Nah, pun jika Yesus ini memang benar-benar Putera Allah, apakah pesan PK itu berlaku? Andaikanlah Yesus itu memang mengklaim diri sebagai Putera Allah yang bisa connect langsung dengan Allah sendiri, menurut pesan PK, sebaiknya orang bergegas dan lari sekencang-kencangnya menjauhinya. Rupanya, itulah yang terjadi. Bacaan hari ini menyajikan bagaimana bentuk pelarian murid Yesus.

Secara objektif sebetulnya mereka berbicara langsung dengan sosok Yesus itu, tetapi perbincangan mereka sendiri adalah semacam mediasi bagi perjumpaan itu karena mereka tidak sadar bahwa mereka berhadapan dengan Kristus sendiri. Begitu mereka sadar, di mana Kristusnya? Hilang, lenyap dari hadapan mereka! Itu artinya, mereka toh tidak bicara langsung dengan Kristus. Mereka menganggap Kristus itu orang asing. Baru setelah mereka berefleksi, tersadarlah mereka akan perjumpaan dengan Kristus nan bangkit itu.

Yang meneguhkan kesadaran mereka ialah refleksi atas apa yang terjadi pada batin mereka sendiri: Oh, pantesan kok tadi hatiku ini berkobar-kobar! Rupanya Tuhan sendiri melawat hati mereka. Dengan kata lain, perjumpaan dengan Tuhan pun tetaplah memerlukan mediasi dan itulah hati yang terbuka pada goresan-goresan Roh yang menghidupkan orang, memberi semangat untuk move on, menggelembungkan harapan akan hidup bersama Allah yang mesti connect dengan jatuh bangun, suka duka, kalah menang di setiap lini kehidupan, termasuk liga champions dan pilkada. 

Kalau begitu, pesan PK memang relevan: jangan pernah percaya pada klaim orang atau sekelompok orang yang menjamin 100% koneksi dengan Allah, perjumpaan langsung dengan Allah. Agama menjadi medium (itu relevansinya) dan kuncinya ada pada ‘hati yang berkobar-kobar’ ketika pikirannya dibuka oleh hidayah Allah (entah itu Yesus Kristus, Taurat, Al’Quran, atau Kitab Suci lainnya). Hidayah Allah tak pernah menjadi sungguh-sungguh hidayah jika stasiun akhirnya adalah pemuliaan diri, agama, partai, sedemikian rupa sehingga hal-hal lainnya cuma jadi komoditas politik.

Atlet yang mendapat hidayah membuat tanda salib atau bersujud, misalnya, mengaburkan hidayahnya jika ritusnya itu dilakukan untuk mengibarkan bendera Katolik atau Islam. Hidayah itu bermakna jika hati yang bersangkutan memang terpaut dengan Allah, bukan sentimen agama.

Ya Allah, mohon cerah budi supaya kami mampu menelisik hati yang senantiasa berada di hadirat-Mu. Amin.


RABU DALAM OKTAF PASKA
19 April 2017

Kis 3,1-10
Luk 24,13-35

Posting 2016: Target Mengalahkan Ahong
Posting 2015: Misa Itu Penting Gak Sih?

Posting 2014: What You Leave In Others

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s