Dijual: Harga Diri

Bacaan hari ini sebetulnya lebih cocok untuk posting kemarin tentang piknik maido. Tetapi apa mau dikata, sudah dibahas kemarin, tak perlu diulang lagi bahkan meskipun piknik masih bisa diganti dengan tamasya. Yang mungkin baik direfleksikan hari ini ialah bagaimana hati nurani atau suara hati itu bisa tersesat karena peran duit. 

Taruhlah seorang beragama A mendatangi orang beragama B dan berniat menjadikan orang beragama B ini sebagai pemeluk agama A. Intensi A itu sendiri sudah memalukan, kalau tidak menjijikkan, tetapi lebih memalukan lagi jika dalam upaya proselitisme itu dipakai uang dan A berhasil mengubah B menjadi penganut agama A. Siapa yang memalukan dan menjijikkan? Ya si B dong! Kenapa? Karena dia menjual integritas keyakinannya.

Beberapa waktu lalu saya ulas soal kingdom of conscience yang semestinya menjadi ranah kehidupan umat beriman. Akan tetapi, mesti diakui bahwa conscience itu secara praktis bisa diperjualbelikan dan jika conscience diperjualbelikan, yang menjijikkan bukanlah pembeli conscience, melainkan penjualnya. Kelemahan tak perlu diletakkan pada pembeli conscience, karena roh jahat senantiasa menempuh segala upaya entah halal entah haram untuk mendapatkan apa yang diinginkannya. Artinya, kalau mesti menyumbang 60 milyar plus 20 milyar pun dia okeh-okeh ajah, namanya juga program okeh ngoceh, yang penting kan ngocehnya, membangun kan urusan tukang bangunan, hahaha…

Kelemahan ada pada pihak yang menjual consciencenya untuk 60 plus 20 milyar itu. Apakah ini soal pilgub DKI? Bukan itu saja, melainkan juga soal bagaimana orang merawat consciencenya. 100 milyar bisa membeli apa saja bisa dihitung secara matematis, tergantung price listnya. Orang bisa mengatakan 100 milyar lebih berdaya daripada undian berhadiah 1 juta. Orang tentu bisa menghitung bahwa investasi 800 trilyun jauh lebih besar daripada 80 trilyun. Martabat conscience sejati tak pernah bisa dijual dengan angka-angka itu atau barang-barang lain yang setara dengannya. Duit memiliki kekuatan atas orang yang consciencenya lemah, yang menjualnya kepada penawar tertinggi.

Sayang beribu sayang, tindakan menjual conscience memang biasanya terjadi kalau orang mencari jalan pintas. Ia mengira bisa membeli kebebasan sebagaimana bisa menjual conscience. Pokoknya asal cepat dapat anu atau inu, asal sakitnya cepat berlalu, asal penderitaannya tidak lama-lama, asal menunggunya tak perlu kesabaran, asal semuanya lancar, asal tak berkonfrontasi dengan ketakutan untuk berubah, dan seterusnya.

Ya Allah, mohon rahmat supaya kami mampu berteguh hati pada kebenaran-Mu sehingga tak mudah termanipulasi oleh bujuk rayu topeng manies agama atau uang. Amin.


SENIN DALAM OKTAF PASKA
17 April 2017

Kis 2,14.22-32
Mat 28,8-15

Posting 2016: Baper Bikin Blur
Posting 2015: Tidur Aja Dapat Duit

Posting 2014: Money Politics In The Bible

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s