Selamat Hari Tetot

Mengenai teks hari ini bisa dipertimbangkan posting Tuhan Tobat atau Tuhan Saja Bertobat untuk melihat sudut pandang Guru iman yang didatangi perempuan bangsa kafir dari Siro-Fenisia. Omong-omong, kemarin saya menghadiri forum yang menghadirkan pembicara dari Jepang, Takeshi Kimura, yang punya keahlian di bidang Artificial Intelligence dan religious studies. Saya senang bahwa beliau memberi catatan pendahuluan bahwa wacana religion atau religious itu sama sekali berbeda dari wacana agama di Indonesia, yang nuansa politik identitasnya begitu kental. Maka dari itu, menurut beliau, alih-alih melihat AI dengan konsep agama yang disusupi ideologi “world religions” itu, orang perlu bergeser melihatnya dari perspektif cerita-cerita mitos. Saya tidak hendak masuk ke cerita mitos yang disodorkannya. Saya hanya mau mengatakan bahwa distingsi kafir atas dasar agama dengan pengertian agama di Indonesia itu tidaklah relevan karena sifatnya lebih politis daripada religius.

Menariknya, gagasan di balik proyek manusia robot AI itu menurut saya pantas dihargai: hendak mempelajari bukan hanya objek di luar diri manusia, melainkan juga objek di dalam diri manusia. Itu juga yang saya harapkan, tetapi saya memang tidak menempuhnya lewat proyek robot AI. Tentu, karena saya tidak mampu, tetapi juga saya ragu apakah kualitas compassionate, misalnya, bisa ditempelkan pada robot yang berbekal intelligence semata. Saya masih berasumsi seampuh-ampuhnya robot AI, ia diciptakan dengan modal intelligence pembuatnya. Maka dari itu, juga kalau kualitas compassionate ditanamkan, itu adalah kualitas compassionate yang berasal dari kalkulasi sebab akibat. Nota bene, dalam ranah sosial, manusia beriman masih punya ruang di antara sebab dan akibat, masih punya ruang keraguan, masih punya kesadaran untuk mengubah diri, dan seterusnya.

Ruang itulah yang oleh sebagian anak muda hari ini dirayakan sebagai hari tetot. Meskipun perayaannya sendiri sama sekali tak menarik saya, saya tetap berusaha reading between the lines dan teks bacaan hari ini mengingatkan saya akan hal itu: dari hatilah si Guru dari Nazareth itu bisa memperluas warta gembiranya kepada orang yang saat itu dikategorikan kafir. Ia menunjukkan bahwa bisa terjadi orang yang disebut kafir atau ateis itu justru malah memiliki iman yang sesungguhnya. Jelaslah Guru dari Nazareth tidak melontarkan komentar yang biasanya disampaikan kepada orang Israel: imanmu telah menyelamatkan engkau. Tentu tidak relevan, karena kategori yang dihidupi masyarakatnya meletakkan orang kafir sebagai orang yang tidak beriman. Akan tetapi, substansinya sebetulnya sama: karena kata-katamu itu, pergilah karena setan sudah keluar dari anakmu.

Tidak gampang memelihara hati seperti dipelihara Guru dari Nazareth itu, yang bisa terlepas dari jerat politik identitas, apalagi menjelang pilpres yang krusial macam begini di tanah yang perang dingin agamanya terus berlanjut. Jangan salah, saya memakai konsep agama seperti dipakai Takeshi Kimura tadi. Ini bukan soal Islam vs Kristen vs Buddha vs agama lokal vs komunis dan seterusnya. Ini adalah soal eksklusivisme vs inklusivisme, soal arogansi rohani vs keterbukaan dan kerendahhatian makhluk Allah.

Tuhan, mohon rahmat supaya kami senantiasa mampu mengasah hati kami sesuai kerahiman-Mu. Amin.


KAMIS BIASA V C/1
Peringatan Wajib S. Sirilus dan Metodius
14 Februari 2019

Kej 2,18-25
Mrk 7,24-30

Posting Tahun B/2 2018: Agama Mukjizat 
Posting Tahun A/1 2017: Markiza Hueks

Posting Tahun B/1 2015: Tuhan Itu Orangnya Pendiam
Posting Tahun A/2 2014: Dosa Menjauhkan, Doa Mendekatkan

2 replies

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s