Kepada Calon Manten

Ini menyakitkan calon manten, tapi saya mesti mengatakannya. Bukan kata-kata saya sendiri sih, melainkan kata-kata orang lain yang menyitir tulisan seorang wartawan Italia, Carla Ravaioli: Bujet untuk kosmetik di dunia ini bisa memecahkan masalah literasi di seluruh penjuru bumi. FAO mengklaim bahwa makanan cukup untuk seluruh warga dunia, tetapi pada kenyataannya ada satu setengah miliar warga kelaparan. Demi “sosok cantik”, sebagian orang membelanjakan dua puluh tujuh hingga tiga puluh juta untuk satu jamuan pernikahanJangan lupa, mata uang yang dipakai Carla Ravaioli itu adalah Euro, bukan Rupiah; jadi kalau dirupiahkan sekarang kira-kira jadi setengah trilyun gitu deh.

Saya percaya, Anda calon manten, pembaca blog ini tak akan mengeluarkan uang sebesar itu untuk resepsi pernikahan Anda. Akan tetapi, jangan merasa lega dulu seakan-akan Anda dan saya tidak termasuk dalam golongan orang seperti itu karena poinnya bukan nominal uangnya. Pokok persoalan yang disinggung Carla Ravaioli lebih dalam dari sekadar “ada harga ada rupa”. Kalau dirumuskan sebagai pertanyaan reflektif berbau spiritual, pokok yang disinggung Carla kurang lebih berbunyi: bisakah orang, meskipun punya duit berharga, tidak mengambil rupa supaya orang-orang lainnya punya rupa?
Konkretnya: bisakah Anda, calon manten, meskipun sesungguhnya bisa mengalokasikan setengah trilyun untuk hajatan Anda, cukup mengeluarkan 10%-nya saja dan sisanya bisa dipakai untuk proyek sosial yang konstruktif bagi masyarakat?

Sekali lagi, poinnya bukan nominal 10% dari setengah trilyun, melainkan bahwa orang perlu kritis terhadap apa yang sudah biasa dihidupi orang “ada harga ada rupa”. Tidak mudah memang menjalani hidup yang keluar dari tradisi, kebiasaan yang sudah taken for granted. Menjalankan perintah Tuhan dan menjauhi larangan-Nya itu taken for granted sebagai jalan kebaikan, yang jika dilanggar justru akan melukai hidup manusia sendiri. Akan tetapi, sayangnya, juga orang beragama cuma tahu sedikit mengenai apa yang sesungguhnya melukai hidupnya: kejahatan selalu menampilkan dirinya dalam citra kebaikan!

Woh, jadi Jokowi itu jangan-jangan citra kebaikan ya?😂 Jangan-jangan dia nanti mau jadi kayak Soeharto!
Yaelah, njêglèk banget perbandingannya, lebay. Tak perlu khawatirlah, Jokowi cuma bisa maksimal dua periode, dan itulah artinya salam dua jari sekarang ini. Selain itu, Jokowi, meskipun menghargai tradisinya, jelas menegaskan diri bukan seperti pemeluk tradisionalisme yang pegangannya “Dari dulu ya begitu” atau “It’s always been like that“. Ini sosok yang transformatif, yang tidak intimidatif, apalagi otoriter.
Tahu dari mana, Rom? Ya bergantung tahu yang mana. Paling gampang lihat saja buahnya: tak seorang pun dari anak-anaknya yang terjun ke dunia politik yang digumuli bapaknya, tetapi juga tak seorang pun dari mereka yang meneruskan usaha yang sudah dirintis bapaknya! 

Wuiiiii, kampanye, Rom?
Lha silakan mau dilabeli apa. Saya cuma mau memberi contoh atas pesan teks bacaan hari ini: yang menajiskan adalah yang keluar dari hati orang, yaitu pikiran kotor, jahat, cabul, iri, zinah, serakah, bebal, sombong, dan seterusnya. Kalau hal-hal itu ada dalam hati Jokowi, tak mungkin anak-anaknya bebas memilih jadi penjual martabak pisang dan daftar PNS tak diterima.

Tuhan, mohon rahmat kebaruan supaya kami tak terjerembab dalam tradisionalisme. Amin.


RABU BIASA V C/1
13 Februari 2019

Kej 2,4b-9.15-17
Mrk 7,14-23

Posting Tahun B/2 2018: Hatinya ke Laut
Posting Tahun A/1 2017: Bapernikus

Posting Tahun B/1 2015: Apa Yang Mencolot dari Hatimu?

3 replies

  1. Sepertinya bahasan penggalan pertama belum lengkap, terpotong dengan loncatan nJokowi, atau, aku yang gagal paham?, kayakmya yg terakhir ya 😂

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s