Nonton Misa

Ini komentar terhadap komentar-komentar orang mengenai komentar Paus Fransiskus terhadap khotbah para imam yang tampak kurang persiapan sehingga ngalor ngidul ngetan ngulon. Sang Paus memberi patokan waktu: 10 menit. Khotbah di Indonesia mungkin perlu basa-basi sedikitlah, lalu tambah stand-up comedy sedikit atau cerita apalah, sehingga taruhlah 15 menit. Celakanya, memang kalau imam gak persiapan, ngalor ngidul ngetan ngulonnya tadi tak tertata sehingga bisa jadi poinnya cuma 1-2 menit, dan 15-40 menit sisanya untuk dialog ala kelompencapir.

Pada kolom komentar di medsos mengenai himbauan Paus itu, ada yang memberi kesan “makin cepat makin baik” tetapi juga ada yang curiga bahwa kalau orang tak tahan pada misa yang lama (yang di dalamnya ada khotbah), bisa jadi ia tak sungguh ingin tinggal bersama Tuhan.
Ya ampun, Tuhan dibawa-bawa segala.
Loh, piyé ta Ma, memang misa itu kan waktu bersama Tuhan, bukan?

Begini ya Mas, Mbak, Pak, Bu, Frat, Sus, Rom, kalau Anda percaya Tuhan itu mahahadir, entah misanya lama atau sebentar, Anda tetap bisa tinggal bersama Tuhan. Misa yang lama pun tidak identik dengan khotbah yang lama. Paus tadi memberi catatan atas khotbah imam yang nggladrah, bukan soal durasi misa. Selain itu, ritual misa adalah perkara horisontal (tak ada Tuhan dalam liturgi); yang membuatnya jadi vertikal adalah kesadaran hati akan hidup di hadirat Allah, dan saya sarankan, kesadaran ini tidak dijejali pikiran-pikiran yang tampak suci tetapi sesungguhnya naif.

Guru dari Nazareth dalam teks bacaan hari ini menunjukkan kebebasan batinnya di hadapan aturan ritual, bukan karena dia merasa superior terhadap aturan bersama, melainkan justru karena dia masuk ke dalam roh dari norma bikinan manusia itu (yang tentu saja oleh orang beragama diklaim sebagai aturan dari Allah). Tradisi bagi guru iman seperti ini bukan lagi pengulangan detail kebiasaan, melainkan wujud penafsiran matang dan jernih terhadap kebiasaan itu untuk mencapai target yang dimaksudkan oleh tradisi itu sendiri. Sayang, memang tendensi galfok itu seperti jadi kebiasaan. Orang beragama, alih-alih mewartakan perintah Tuhan, malah mewartakan kekeraskepalaannya sendiri. Yang mestinya Ad Maiorem Dei Gloriam jadi Ad Maiorem Diri Gue. Contohnya sudah saya tuturkan dalam posting Kucing Anjing Kelinci: hal rècèh diberi landasan teologis yang naif.

Ketika membantu sebuah Gereja untuk serangkaian misa besar, dalam persiapannya saya menata pergerakan para petugas. Alhasil, perayaan yang biasanya berdurasi dua jam lebih waktu itu selesai dalam satu jam belasan menit (juga karena saya khotbah cuma belasan menit). Concern saya bukan pada lama-sebentarnya, melainkan pada hal-hal yang perlu dan penting dalam ritual. Kerap terjadi jeda antarbagian ritual yang tak perlu dan tak penting juga.

Meskipun umat senang, ketika saya sarankan untuk melanjutkan tata ritual seperti itu, mereka pesimis karena takut tim liturgi atau pastornya tak setuju. Ya wis, terima aja nasibmu, Nak, untuk nonton petugas berjalan dari tempat duduknya ke mimbar, untuk bengong menunggu kor selesai menyanyikan lagu, dan aneka jeda lainnya. Dengan begitu, petugas membantu umat untuk ‘nonton misa’.

Tuhan, mohon kebebasan batin. Amin.


SELASA BIASA V C/1
12 
Februari 2019

Kej 1,20-2,4a
Mrk 7,1-13

Posting Tahun B/2 2018: House of Hoax
Posting Tahun A/1 2017: Masih Salam Dua Jari?

Posting Tahun C/2 2016: Ad Maiorem Diri Gue
Posting Tahun B/1 2015: Citra Skolastika

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s