All was good

Dalam kisah penciptaan semesta, yang sebagian dibacakan sebagai bacaan pertama hari ini, dikatakan bahwa Allah melihat semuanya itu baik. Karena ini seakan adalah kisah mau jebot, dalam bahasa lain tertulis tense yang dipakai sebagai waktu lampau: all was good. Akan tetapi, jika secara filosofis bisa dijelaskan bahwa penciptaan itu bukan proses tujuh hari penciptaan (seturut kalender apa pun yang dibikin manusia), melainkan proses terus menerus selama ada ruang dan waktu, apakah memang Allah melihat semuanya itu baik? Apakah memang all is good atau tetap all was good

Ini titipan tetangga jauh. Kalau Anda punya waktu silakan menonton Jokowi, sebuah film yang diproduksi sekitar enam tahun lalu. Saya tempelkan saja di sini ya.

Andaikanlah film Jokowi itu adalah film proses penciptaan semesta, dan di akhir film itu muncul komentar: all was good, apakah kiranya itu berarti seluruh film itu good, entah isi maupun bentuk yang disodorkannya? Apakah terlunta-luntanya keluarga Jokowi ini baik? Apakah akting para pemainnya baik? Apakah pendapatan dari film itu baik? Mengapa penulis Kitab Suci itu melekatkan ungkapan all was good pada mulut Allah?

Terus terang, saya tidak tahu mengapa dan saya bisa terus bertanya-tanya dengan asosiasi film Jokowi tadi: apakah hidup terlunta-lunta itu baik? Apakah hidup miskin itu baik? Apakah gagal memenuhi janji itu baik? Apakah cabut dari pelajaran mengaji itu baik? Apakah penggusuran itu baik? Apakah baik menggadaikan barang wasiat? Apakah melakukan perundungan terhadap teman yang miskin itu baik?
Nah, saya ragu bahwa semua orang sepakat dengan satu jawaban baik atau tidak baik terhadap seluruh pertanyaan itu. Artinya, all was good itu sangat meragukan! 
Ha njuk gimana dong mosok Kitab Suci berisikan hal-hal yang sangat meragukan? [Diyaaar kowe…]

Ya sudahlah kembali ke Jokowi tadi: all was good bukan soal detail hasil, melainkan proses subtil. Orang banyak salah paham mengenai hal ini, seperti mereka yang keranjingan jeprat-jepret dengan kamera DSLR atau mirrorless dan ribet dengan megapiksel dan risau melihat noise saat memperbesar foto. Orang seakan tak mengerti bahwa keindahan dan kebaikan tidak harus pergi ke detail ala perfeksionisme, tetapi justru melihat keseluruhan mozaik.
Saya kira begitulah juga halnya all was good dalam narasi penciptaan. Allah memandang semuanya baik. Yang tidak bisa memandang semuanya baik adalah justru ciptaan-Nya sendiri. Kenapa? Ya karena mereka campur tangan untuk menghasilkan detail yang tidak baik. Itu mengapa setiap orang bisa bertentangan memandang kebaikan mengenai apa saja.

Kitab Suci menyodorkan penyakit sebagai konsekuensi ketidaktaatan ciptaan dan arogansinya terhadap rencana Allah. Guru dari Nazareth sendiri tampaknya mengerti bahwa kesehatan penting, tetapi bukan segala-galanya mengenai misteri kehidupan. Yang pasti, adanya sakit tidak menunjukkan bahwa Allah memang mencintai penyakit: ia mencintai orang sakit, bukan semata supaya orang sehat, melainkan supaya orang bisa berperan dalam all that was good tadi.

Tuhan, mohon kekuatan untuk senantiasa mengarahkan hidup kami kepada keselamatan-Mu bagi semua orang. Amin.


SENIN BIASA V C/1
Hari Orang Sakit Sedunia
11 Februari 2019

Kej 1,1-19
Mrk 6,53-56

Posting Tahun B/2 2018: Invisible Touch
Posting Tahun A/1 2017: Syukur Ramah

Posting Tahun C/2 2016: Mau Jadi Dukun?
Posting Tahun B/1 2015: Tersentuh Penderitaan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s