Jala Hidayah

Pernahkah Anda disuruh naik ke perahu atau sekoci yang ada di bawah Anda? Agak aneh sebetulnya, naik ke tempat yang lebih rendah. Mari kita mulai dengan terjemahan kata kerja ἐμβαίνω (embaino), yang dalam bahasa Inggris jadi to embark, tetapi dialihbahasakan jadi naik kapal/perahu/sekoci/gèthèk. Jelaslah bahwa terjemahan itu sangat dipengaruhi oleh partikularitas (hal-hal yang bersifat lokal, temporal) penggunanya. Mungkin dulunya kalau naik perahu memang harus dari bawah, dari air, bukan dari dermaga.

Lha kenapa je Romo ribet dengan kata itu? Justru untuk mengatakan bahwa poinnya bukan soal naik atau turun perahu, melainkan soal ‘masuk ke dalam perahu’. Ceritanya Guru dari Nazareth itu masuk ke perahu Petrus, yang sudah semalam-malaman menjalankan kerja rutinnya menjala ikan dan hari itu apes, tak ada ikan yang tertangkap. Setelah Petrus mengikuti kata-kata Guru dari Nazareth itu, ikan tangkapannya begitu banyak sehingga ia butuh bantuan dari perahu-perahu lainnya.

Cerita ini bisa saja merupakan reportase historis, tetapi saya lebih suka menerimanya sebagai simbol: ketika orang memberi ruang pada Allah untuk masuk dalam hidup sehari-harinya yang bisa jadi cuma recehan, hal besar bisa terjadi. Tentu saja, kalau orang tak memberi ruang bagi Allah, hal besar bisa terjadi. Bahkan, jangan lupa, begitu banyak penemuan penting dalam sains yang awalnya adalah justru perlawanan terhadap monopoli pengetahuan oleh otoritas agama! Lha persis itulah yang mau saya katakan: kalau Allah diberi ruang, agama pun akan ditangkap hidup-hidup supaya bisa ‘bertobat’!

Pada posting lalu saya sodorkan kata Italia, tetapi kali ini saya salin kata Yunaninya: ζωγρῶν (zogron), yang rupanya tidak tepat diterjemahkan sebagai ‘penjala’. Kata ini cuma dipakai dalam teks ini dan surat kepada Timotius (2Tim 2,26): terlepas dari jerat iblis yang telah mengikat mereka pada kehendaknya [kehendak iblis]. Alhasil, ζωγρῶν tadi bukan soal mengajak orang untuk mengikuti si pengajak, melainkan menangkap orang supaya ‘terikat’ pada kehendak Allah. Itulah bedanya teisme dari ateisme. Yang satu memberi ruang bagi Allah, yang lainnya tidak. Tadi sudah saya bilang entah memberi atau tidak memberi ruang bagi Allah, hal besar bisa terjadi. Besar kecilnya memang relatif sih, tetapi satu hal yang jelas: kalau orang memberi ruang bagi Allah, ia tidak menangkap orang untuk mengikuti kehendaknya sebagaimana iblis mengikat orang supaya mengikuti kehendaknya, tetapi menangkap orang supaya kehendak Allahlah yang bekerja padanya, supaya hidayah-Nya bekerja.

Maka dari itu, kalau orang memberi ruang bagi Allah, agendanya bukan supaya orang lain mengikuti apa yang dia yakini (agama, misalnya), melainkan supaya orang lain bisa keluar dari kegelapan hidupnya karena hidayah Allah. Saya ini diam-diam ya ateis sih, tetapi bukan dalam arti menolak substansi Allah, melainkan melawan paham-paham Allah atau konsep-konsep Allah yang bisa menyesatkan orang. Bisa jadi paham-paham Allah yang disodorkan agama malah menenggelamkan orang ke dalam kegelapan dan membuat hidup mereka jadi tidak autentik. Maka, undangan Guru dari Nazareth berlaku mulai dari Petrus dan seterusnya: menangkap orang dalam keseharian hidupnya supaya hidayah Allah jadi operatif. Jika tidak, kinerjanya jadi seperti iblis, mengikat orang lain pada kehendaknya sendiri.

Tuhan, jadikanlah hati kami ruang terbuka bagi-Mu. Amin.


HARI MINGGU PEKAN BIASA V C/1
10 Februari 2019

Yes 6,1-2a.3-8
1Kor 15,1-11
Luk 5,1-11

Posting Tahun 2016: Rekayasa Perjumpaan

2 replies

  1. Hallo Romo

    Dari kalimat ini “Saya ini diam-diam ya ateis sih, tetapi bukan dalam arti menolak substansi Allah”🙂

    ada cerita dari seorang Romo Diosesan dari amerika yang setelah berdebat dgn seorang atheis, si atheis berkata “trimaksih Tuhan aku atheis”… wkwkwkwk…😁

    Salam

    Like

    • Halo Mas HPI, hahaiya itu ungkapan menyindir sekali ya…. Ada blog juga dengan nama domain ungkapan itu.
      Kalau saya malah bilang “Untung saya ateis, jadi bisa semakin mengerti jalan-jalan menuju Allah.”

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s