Dipenjara Brizieq

Sit at the edge of the dawn, the sun will rise for you.
Sit at the edge of the night, the stars will shine for you.
Sit on the edge of the river, the nightingale will sing for you.
Sit down at the edge of silence, God will speak to you
.

Konon begitulah tulisan guru spiritual Swami Vivekananda. Saya kira, begitu jugalah ajakan Guru dari Nazareth untuk beristirahat sejenak. Meskipun Augustinus pernah mengatakan our heart is restless until it finds its rest in thee dan William Shakespeare menutup Hamletnya dengan The rest is silence, istirahat tetap relevan sebelum orang dikubur.

Katanya, ibu-ibu yang ngêloni anaknya tidur masih bisa mendengar nafas anaknya meskipun deru pesawat terbang merambah kamar tidur mereka. Entah lebay atau tidak, tetapi maksudnya saya kira tak jauh dari doa Swami Vivekananda: sit down at the edge of silence, God will speak to you. Silence tidak identik dengan tempat (colek posting Doa Bukan Pelarian, Brow), tetapi dengan hati yang connect dengan Allah. Dari koneksi inilah muncul compassion terhadap dunia yang amburadul dan orang tergerak menatanya. 

Pada zaman media yang begitu terbuka, sulitlah membendung kebisingan dari tempat-tempat yang tak kenal silence. Tempat seperti itu bisa jadi merupakan penjara, yang mengekang fisik tetapi juga sekaligus mengekang batin orang yang tak kenal silence. Maka dari itu, dari penjara pun bisa muncul hoaks sementara di luar penjara bisa diedarkan narasi palsu. Misalnya, yang di penjara omong soal NU sebagai penyokong Nasakom, yang di luar penjara omong soal kriminalisasi ulama. Suara-suara macam ini, yang tidak jelas landasan berpikirnya, memang bisa ditangkap secara keliru oleh orang yang tidak akrab dengan silence. Lebih mudah diterima orang yang dipenjara brizieq [kok lebih enak brizieq daripada keberisikan ya].

Loh, memangnya Romo punya bukti NU bukan penyokong Nasakom? Apa gak baca tuh ulama-ulama yang tidak pro-Jokowi dikriminalisasi? Lah, kebalik Nèng, yang perlu dijelaskan justru bagaimana dibuktikan NU penyokong Nasakom dan frase kriminalisasi ulama itu sendiri. Repot kan kalau pada kenyataannya justru NU-lah yang secara getol melawan komunisme dan kriminalisasi ulama menimpa kriminal yang di-‘ulama’-kan?
Itu maksud saya dengan silence: kalau orang duduk di tepiannya, ia bisa mendengar secara jernih, bisa juga berpikir secara jernih. Lagi, lihatlah video polisi yang menilang pengendara motor yang mencabik-cabik motor yang dikendarainya itu. Ia berdiri di tepian silence.

Jokowi, sebagai penguasa, memang mesti dikritik. Saya sepakat bahwa Jokowi dan pemerintahannya pasti punya cacat cela dan pantas dikritik. Akan tetapi, tidak semua kritik bersifat konstruktif, tidak semua kritikus juga punya intensi murni. Dalam situasi menjelang pilpres begini, pastilah Jokowi dan crewnya diserang dari segala penjuru mengenai apa saja: pokoknya ganti presiden! Nah, kalau di kepala orang sudah tertanam itu, pada saat dunia mengapresiasi Jokowi, jelaslah orang itu tidak duduk di tepian silence. Ia dipenjara brizieq.

Ya Allah, mohon rahmat keheningan supaya kami tetap mampu berpikir jernih di tengah kekeruhan informasi yang sangat politis. Amin.


SABTU BIASA IV C/1
9 Februari 2019

Ibr 13,15-17.20-21
Mrk 6,30-34

Posting Tahun B/2 2018: Moving Borobudur
Posting Tahun A/1 2017: Terbalik Nèng!

Posting Tahun C/2 2016: Ayo Cari Duit
Posting Tahun B/1 2015: Doa Bukan Pelarian Br0w!

3 replies

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s