Sebelum Punah

Our life is either governed by the Holy Spirit in truth and justice, or is governed by Satan in falsehood and injustice.
Adakah hidup yang dibimbing oleh keduanya secara bersamaan? Ya ada, namanya hidup galau, dan mungkin lebih banyak orang yang hidup dalam kegalauan daripada orang yang hidup entah dibimbing oleh Roh Kudus atau Setan. Dua pembimbing skripsi saja bisa bikin bimbang, apalagi kalau pembimbingnya Roh Kudus dan Setan!

Tapi sebetulnya patokannya juga sederhana sih karena prinsip kerja Setan itu jelas: falsehood dan injustice. Orang tinggal meneliti saja apakah arah bimbingan yang diterimanya itu memuat hoaks (yaitu falsehood) dan ketidakadilan atau tidak. Setan bisa mengambil kata-kata bijak atau data yang akurat atau bahkan kebenaran selalu meluncur dari mulutnya, tetapi karena Setan, kata-kata bijak dan kebenaran itu niscaya memuat falsehood. Di manakah falsehood-nya? Ada dalam intensinya, motifnya, atau dampak yang disasarnya.

Eh eh eh, berarti maksud Romo, prinsip kerja Roh Kudus tadi gak jelas po? Hehehe, ya mungkin begitu, karena kebenaran dan keadilan itu dalam banyak hal tak jelas; bukan substansinya, melainkan konsekuensi praktisnya: orang mesti terus menerus mencari cara, berdialog, memperluas perspektif atau wawasan untuk menguak kebenaran.
Lah, berarti prinsip kerja Setan tadi juga gak jelas dong karena toh ujung-ujungnya orang mesti cari cara untuk klarifikasi apakah kebenaran yang disampaikannya memuat falsehood atau tidak.

Oh iya ya, berarti prinsip kerja Roh Kudus dan Setan ini sama-sama gak jelas ya? Hahaha, ya wis manutlah, dua-duanya gak jelas dan itu mengapa discernment of spirits jadi penting. Akan tetapi, kalau tak menguasainya, sekurang-kurangnya orang bisa berpatokan dengan falsehood dan injustice tadi: orang dibimbing Roh Kudus sampai (terbukti) falsehood dan injustice terkuak. Cuma, sayang kan kalau untuk tahu falsehood dan injustice setelah Indonesia punah? 😂

Kalau yang punah itu martir seperti Yohanes Pembaptis yang dikisahkan teks hari ini, mungkin masih okelah karena itulah ‘tugas’-nya sebagai martir. Oh, salah, bukan tugas, melainkan konsekuensi dari mereka yang sungguh menyuarakan kebenaran dan keadilan. Kalau yang menanggung konsekuensi itu sebuah bangsa, betapa mengerikannya kekuatan Setan itu. Maka maklumlah kalau Guru dari Nazareth itu mengajarkan sebuah doa supaya Tuhan tidak memasukkannya dalam pencobaan. Bisa jadi, begitu orang terpengaruh kekuatan Setan ini, ia kesulitan untuk keluar dari jaringan itu seperti orang tidak mudah keluar dari jaringan narkoba, jaringan teroris, dan mungkin jaringan gabungan keduanya.

Tuhan, mohon rahmat kepekaan supaya kami mampu mendeteksi kepalsuan dalam diri kami. Amin.


JUMAT BIASA IV C/1
8 Februari 2019

Ibr 13,1-8
Mrk 6,14-29

Posting Tahun A/1 2017: Disturbing Truth
Posting Tahun C/2 2016: Hobi Cari Kambing Hitam

Posting Tahun B/1 2015: Martir Ja’im

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s