4 Sehat 5 Sempurna?

Saya bukan pembela agama, tetapi juga tak sepakat untuk melecehkan substansinya. Kadang saya jumpai orang yang sinis terhadap agama karena ironi dan kelemahan dalam agama dan mendewa-dewakan sistem kepercayaan yang dianutnya: sains. Mereka lupa bahwa kalau memang di dunia ini tak ada yang mutlak, itu artinya sains juga tidak mutlak. Mereka tutup mata bahwa kalau Allah yang maha sempurna itu tak ada, tak ada pula kesempurnaan di dunia ini. Klip videa dari media sosial ini saya ambil untuk melihat pentingnya pewartaan yang jadi tugas para murid dari Guru dari Nazareth. Menurut tokoh kita ini, sejalan dengan pewartaan Guru dari Nazareth, Allah mencintai umat-Nya bukan karena mereka sempurna, melainkan karena mereka bertobat.

Katanya, menjadi religius tidak berarti menjadi sempurna. Begitu juga halnya agama bukanlah suatu institusi sempurna yang mesti dibela mati-matian seakan-akan agama itu identik dengan Allah sendiri. Akan tetapi, pun jika agama tidak sempurna, tidak bisa dikatakan bahwa agama itu buruk, salah, sesat, dan sejenisnya. Dekat dengan Allah tidak juga berarti orang jadi sempurna. Semua anak Adam pastilah berdosa dan yang terbaik dari para pendosa ini ialah mereka yang bertobat. Jelaslah, orang baik bukanlah orang yang sempurna, orang yang tak pernah salah, gagal, berdosa, dan sejenisnya, melainkan orang tak sempurna, orang berdosa yang bertobat.

Oleh karena itu, mungkin bisa dikatakan bahwa kesempurnaan manusia, ‘keturunan Adam’, tidak terletak pada tanpa celanya hidup manusia itu, tetapi pada kapasitasnya untuk melakukan suatu auto-recovery atau system restore, yang tidak bisa tidak, mengandaikan koneksinya dengan Allah, bagaimanapun itu mau disebut. Jadi, ada baiknya orang tidak terlalu ilusif dengan ideologi mengenai iman yang tulen, asli, sempurna, dan sejenisnya. Kesempurnaan iman orang dibangun dari aneka kerapuhan hidupnya dan sesama, dibangun dari ketidaksempurnaan hidup bersama yang dirajut sedemikian rupa sehingga kesempurnaan itu bukan lagi klaim ideologi pihak tertentu, melainkan pemahaman bersama akan hidup universal yang merupakan anugerah Allah. Kalau tidak begitu, mestilah terjadi perang (entah dingin atau panas) karena yang satu menganggap diri lebih dari yang lain.

Kunjungan Paus Fransiskus ke Uni Emirat Arab yang baru saja berlalu, yang seakan menjawab 800-year challenge (karena di tahun 1219 pada masa ‘Perang Salib’ itu Santo Fransiskus Assisi berhasil menghadap Sultan Malik al-Kamil yang begitu notorious di kalangan umat Katolik), memberikan pesan kuat bahwa agama-agama mestilah menyokong proyek besar kemanusiaan. Semua agama mesti mengoreksi diri kalau-kalau dirinya justru andil dalam penggerogotan kemanusiaan: perang, kekerasan, pelecehan, terorisme, dan seterusnya.

Tuhan, jadikanlah kami pembawa damai.
Bila terjadi kebencian, jadikanlah kami pembawa cinta kasih.
Bila terjadi penghinaan, jadikanlah kami pembawa pengampunan.
Bila terjadi perselisihan, jadikanlah kami pembawa kerukunan.
Bila terjadi kebimbangan, jadikanlah kami pembawa kepastian.
Bila terjadi kesesatan, jadikanlah kami pembawa kebenaran.
Bila terjadi kecemasan, jadikanlah kami pembawa harapan.
Bila terjadi kesedihan, jadikanlah kami sumber kegembiraan.
Bila terjadi kegelapan, jadikanlah kami pembawa terang.
Tuhan semoga kami ingin menghibur daripada dihibur, memahami daripada dipahami, mencintai daripada dicintai. Amin
.


KAMIS BIASA IV C/1
7 Februari 2019

Ibr 12,18-19.21-24
Mrk 6,7-13

Posting Tahun B/2 2018: Stop and Go
Posting Tahun C/2 2016: Bebas Memang Gak Enak

Posting Tahun B/1 2015: Jahatnya Dunia Lain

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s