Skandal Ignorance

Kartun ini saya dapat dari news-feed media sosial dan saya tempelkan di sini bukan untuk menunjukkan pesan utama narasinya, melainkan pesan sampingan, yang kerap jadi perdebatan juga.
Ada versi kompletnya yang berisi perdebatan mengenai pakaian sunnah, tetapi seperti sudah saya katakan, saya tidak hendak masuk ke argumentasi itu. Pesan sampingan yang saya ambil di sini adalah pernyataan yang dilekatkan pada karakter Aisah,”Nanti kalau diganggu cowok katanya sexual harassment, padahal kamu yang mancing-mancing.”

Di sini orang bisa berdebat mengenai siapa dan apa yang membuat skandal: objek atau subjek. Di satu sisi orang bisa mengatakan,”Kalau pikiran subjeknya bersih, objek apa pun tidak akan memancing skandal.” Kelanjutannya, terserah orang mau berpakaian bagaimana. Sexual harrasment sampai perkosaan tidak ditimbulkan oleh pakaian objek, melainkan subjek pelaku yang pikirannya kotor. Buktinya, orang berpakaian sopan pun bisa jadi korban perkosaan. Di lain sisi, saya kira memang ada yang namanya sex appeal dan itu bersifat sensasional. Artinya, muncul karena triggernya dipersepsi lewat panca indra. Ada orang yang terangsang karena melihat binatang kawin. Ada orang yang membaca cerita porno dan imajinasinya jadi liar dan tak bisa mengontrol rangsangan seksualnya. Loh, Rom, beda dong pakaian dan cerita porno! Lagipula, orang yang baca cerita porno atau browsing situs porno, bukankah itu membuktikan bahwa pikirannya sendirilah yang mengarahkannya ke sana?

Saya tak mau berdebat di situ karena saya tidak menyalahkan yang satu dan membenarkan yang lain. Kalau Anda masih ingat poin epistemological humility, ini adalah salah satu contoh penerapannya. Subjek dan objek itu saling memengaruhi, saling melengkapi, saling mengoreksi, saling memberi isi kepada pengetahuan. Oleh karena itu, tak mungkin disimpulkan secara mutlak bahwa skandal seksual, misalnya, terjadi semata karena objek yang tak senonoh atau subjek yang bermodal piktor belaka. Lha kok malah bahas beginian tuh emangnya teks hari ini omong apa je, Mo?

Teks hari ini menegaskan teks hari kemarin, yang memberi inspirasi bahwa imanlah yang menyembuhkan, menyelamatkan, mengatasi kematian, membangun hidup baru. Absennya iman membuat penyelamatan, penyembuhan, hidup baru jadi sangat sulit terwujudkan. Absennya iman jadi skandal, jadi batu penghalang. Dalam teks dikatakan bahwa Guru dari Nazareth itu tak dapat membuat mukjizat apa pun (kecuali beberapa penyembuhan) karena ketidakpercayaan orang-orang di tempat asalnya. Ketidakpercayaan ini adalah skandal pengetahuan yang tidak disebabkan oleh piktor atau tidaknya isi kepala orang, atau ilmu pengetahuan yang begitu maju, tetapi oleh ignorance terhadap Allah dan sepak terjang-Nya dalam sejarah. Ignorance ini tidak eksklusif milik ateis, tetapi juga orang yang mengaku beragama dan mengakui eksistensi Allah.

Kok bisa orang beragama memelihara ignorance terhadap tindakan-tindakan Allah? Ya bisa saja jika ia ignorant terhadap diri sendiri, tidak masuk secara jujur ke dalam dirinya sendiri dan tidak menempatkan Allah sebagai objek pikirannya sendiri. Kembali lagi ke atas: juga paham orang mengenai Allah adalah jalinan relasi subjek-objek yang tak pernah bisa menempatkan Allah semata di kutub objektif.

Tuhan, mohon rahmat untuk menyingkirkan ignorance kami. Amin.


RABU BIASA IV C/1
Peringatan Wajib S. Paulus Miki dkk.
6 Februari 2019

Ibr 12,4-7.11-15
Mrk 6,1-6

Posting Tahun B/2 2018: False Happiness
Posting Tahun A/1 2017: Tontonannya Makin Asik

Posting Tahun C/2 2016: Ayo Sekolah
Posting Tahun B/1 2015: Disiplin Itu Gimana?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s