False Happiness

Anda masih ingat bahwa yang viral tak selalu vital dan yang substansial tak selamanya bergandengan dengan aksesori. Teks bacaan hari ini menyediakan contohnya. Ceritanya kan Yesus itu pulang kampung. Nah, seperti Jokowi mendapat kehormatan untuk jadi imam salat di Afghanistan, Yesus pun mendapat kehormatan untuk mengajar di tempat ibadat di kampungnya. Meskipun itu suatu kehormatan, sebagian orang mencibir aktivitas Jokowi sebagai pencitraan. Terhadap Yesus tak beda jauh, orang-orang kampung terpukau pada ajaran yang disampaikan Yesus, tapi kemudian muncul juga cibiran.

Nah, cibirannya ini nih yang menarik untuk dicermati seturut gerak naratif teksnya. Penulis Markus tak begitu jelas menghubungkan bagian narasinya. Yesus mengajar. Orang-orang terpukau oleh ajarannya, tetapi mereka sadar bahwa Yesus itu cuma salah seorang dari mereka juga, dan mereka kecewa lalu menolak dia. Apa hubungannya jal mengerti kerabat orang hebat lalu kecewa? Apakah orang cenderung berharap bahwa sesuatu yang luar biasa itu benar-benar asing dari diri mereka sendiri? Entahlah, tetapi mungkin bisa Anda bayangkan teman kecil Anda yang semasa SD-SMP statusnya tak terdengar, jauh inferior daripada Anda, lalu dia sekarang menjadi pengusaha skala nasional atau pakar langka yang terkenal di mancanegara, dan Anda bertemu dengannya. Bagaimana pandangan Anda terhadapnya?

Terlepas dari itu, teks menyebutkan juga tanggapan Yesus: nabi emang gak pernah dihargai di kampungnya sendiri. Apakah dengan tanggapan itu Yesus hendak menyatakan dirinya sebagai nabi? Atau itu cuma karangan Markus yang diletakkan pada mulut Yesus? Ya mboh. Akan tetapi, pada akhir teks disebutkan bahwa Yesus heran terhadap ketidakpercayaan orang-orang kampungnya. Ketidakpercayaan terhadap apa? Terhadap ajarannya? Bahwa dia nabi? Ya mboh. Pokoknya di kampungnya itu dia tak bisa membuat satupun mukjizat. Di bagian lain kita tahu bahwa mukjizat itu mengandaikan iman [bdk. imanmu telah menyelamatkan engkau]. Maka, ini tafsir bodoh saya, ketidakpercayaan itu sepertinya lebih dekat pada lemahnya iman orang-orang sekampung Yesus.

Pada diri orang yang imannya lemah itu, kekaguman tidak memengaruhinya untuk mengoreksi diri, mawas diri. Substansi Sabda Allah, Kitab Suci, Agama, bisa begitu membuat orang takjub, tetapi ia bisa tetap tertutup dan tak akan membiarkan yang substansial itu mengorek kebiasaannya, mengubah aksesorinya, mendorongnya keluar dari kenyamanan semu, kebebasan penuh tipu, atau kebahagiaan palsu. Begitulah. Banyak orang tahu bahwa sebetulnya kebahagiaannya semu, kebebasannya palsu dan kenyamanannya penuh tipu, tapi mengherankannya, orang-orang itu tetap saja berkubang di situ. Kalau tuduhan saya sih itu karena orang tak punya kerohanian atau kalau punya, kerohaniannya tersesat, tidak sampai pada level material. Tapi ini cuma tuduhan, tak perlu diajukan ke pengadilan.

Ya Tuhan, mohon keterbukaan hati untuk mengalami kebaruan hidup setiap hari. Amin.


RABU BIASA IV B/2
Peringatan Wajib S. Yohanes Bosko
31 Januari 2018

2Sam 24,2.9-17
Mrk 6,1-6

Posting Tahun A/1 2017: Tontonannya Makin Asik
Posting Tahun C/2 2016: Ayo Sekolah
Posting Tahun B/1 2015: Disiplin Itu Gimana?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s