Agamafobia

Saya sempat baca berita media daring mengenai kegiatan baksos gereja Katolik yang dihentikan secara paksa oleh kelompok pecinta agama tertentu (ragu sih menyebutnya pecinta; lebih cocok diberi label penggila agama, yaitu orang-orang yang sinting karena agama) karena kegiatan itu dituduh sebagai upaya kristenisasi. Mengenai kristenisasi ini sudah disinggung pada tautan ini atau tautan ini dan link ini atau link ini. Baksos gereja Katolik akan saya hentikan, kalau saya mau ribut, bukan karena kristenisasi (tepatnya katolikisasi), melainkan karena bentuk baksosnya mengkhianati ide prinsip solidaritas. Gak usah dibahas deh.

Saya mau sharing saja. Dari bacaan kedua, yang nyangkut di benak saya adalah kata takut. Wanita yang berhasil menyentuh jubah Yesus itu takut dan gemetar setelah mengetahui apa yang terjadi pada dirinya. Ia menyentuh jubah Yesus dan merasa penyakit yang dideritanya selama dua belas tahun itu lenyap. Ini terjadi dalam perjalanan ketika Yesus hendak menyembuhkan anak perempuan Yairus. Karena peristiwa itu juga, Yesus ‘terlambat’ tiba di tempat Yairus. Ia sudah mati, tetapi malah Yesus berpesan supaya mereka tidak takut.

Mengapa Yesus berpesan supaya mereka tidak takut ya? Pesan itu masuk akal: orang yang takut takkan melangkah ke mana-mana. Akan tetapi, kenapa perempuan yang sakit dua belas tahun itu malah berani tampil dan tersungkur di depan Yesus dan menuturkan apa yang terjadi pada dirinya? Jadi ini takut macam mana?
Tidak dikatakan ia takut pada Yesus atau orang banyak, tetapi ia takut dan gemetar atas apa yang terjadi pada dirinya: jebulnya keyakinannya itu terwujud. Coba bayangkan kalau Anda menyimpan niat keyakinan tertentu dan apa saja niat keyakinan itu terwujud. Ngeri gak sih?

Saya pernah berzikir dengan rosario sembari berjalan santai (atau jalan-jalan sambil rosario deh). Tiba di bawah pohon duren saya berkata dalam hati,”Bakal jatuh nih durennya.” Tak ada sedetik saya melangkahkan kaki kanan dan gedebuk, duren jatuh tepat di belakang kaki kiri saya. Hiiiiii….. kok ya pakai melangkahkan kaki kanan segala ya!

Perempuan itu boleh jadi mengalami sesuatu yang tremendum et fascinosum, menggentarkan sekaligus memesona. Karenanya ia dengan tulus mengungkapkan pengalamannya kepada Yesus dan orang banyak di situ. Sharing itu dikonfirmasi Yesus: imanmu menyelamatkanmu. Itu diperkuat lagi dengan apa yang dibuat Yesus. Anak Yairus yang sudah mati diyakininya bangun lagi. Jebulnya, anaknya Yairus bangun lagi tuh. Iman Yesus kira-kira memuat keyakinan bahwa Allahlah yang menghidupkan dan dia percaya bahwa Allah akan menghidupkan anak Yairus.

Yesus tidak mengatakan,”Agamamu menyelamatkan engkau.” Betul, Sus, agama tanpa iman itu cuma bikin orang takut satu sama lain, memelihara agamafobia, bukan gentar terhadap Allah yang punya kuasa. Gerak naratif bacaan itu menunjukkan bahwa jangankan sakit, bahkan kematian pun dapat diatasi dengan iman kepada Allah yang menghidupkan. Persoalannya, kalau orang punya agamafobia, antiagama, gimana dia mau beriman ya? Adanya mungkin cuma debat berorientasi kemenangan, tetapi kemenangan itu, seperti dibilang bacaan pertama, bisa jadi perkabungan, sesuatu yang memalukan. Agamafobia memang memalukan tak jauh beda dari agama racun.

Ya Allah, tambahkanlah iman kami juga melalui agama kami masing-masing. Amin.


SELASA BIASA IV B/2
30 Januari 2018

2Sam 18,9-10.14b.24-25a.30-19,3
Mrk 5,21-43

Posting Tahun A/1 2017: Istirahatnya Kata dalam Fakta
Posting Tahun B/1 2015: Mosok Gak Bisa Menyembuhkan?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s