Stop and Go

Orang tulus memberikan miliknya, kekayaannya, bahkan dirinya, secara cuma-cuma. Salah satu contoh yang tak teragukan ialah ketika seseorang mengingatkan pengendara motor soal standar yang belum dinaikkan pada saat motornya melaju. Tak ada orang yang melakukannya supaya ia mendapat pujian atau ucapan terima kasih. Ia melulu menyampaikannya demi keselamatan pengendara motor yang lupa menaikkan standarnya itu. Tindakannya muncul dari compassion, empati, perhatian yang diarahkan pada kebaikan orang lain, bukan kebaikannya sendiri. Untuk sementara saya cuma menemukan contoh itu. Kalau Anda punya contoh yang lain (bukan yang mirip-mirip dengan keselamatan berkendara atau kerja), mohon saya diberi info via email romasety@versodio.com. Pada kebanyakan tindakan yang memuat perhatian kepada orang lain, betapapun heroik dan baiknya, sifatnya transaksional, dengan prinsip kurang lebih do ut des: aku kasih supaya nanti kamu kasih juga (ke aku). 

Loh, Rom, bukannya akhirnya bahkan orang yang tulus pun, yang percaya pada surga, mengharapkan upah surgawi? Bukankah tindakan tulusnya pun dibuat demi kebahagiaan kekalnya? Ujung-ujungnya, seturut definisi Romo itu, gak ada orang yang sungguh tulus dong.

Lha ya itu tadi contoh ketulusan yang saya bilang: orang yang mengingatkan pengendara motor yang kelupaan menaikkan standar motornya. Untuk mengingatkan pengendara motor itu, orang tak perlu beragama, tak perlu percaya kepada Tuhan juga, bukan? Ia murni mengingatkan demi keselamatan orang lain, entah surga ada atau tiada. Pun sekarang ini relatif banyak orang beragama yang sudah tercerahkan bahwa pahala dari Tuhan itu tidak identik dengan urusan setelah kematian. Hahaha…. lha itu kan tetap saja Romo masih pakai konsep pahala, berarti ada prinsip balas budi juga, namanya bukan ketulusan lagi.

Mmmm…. mohon maaf, mungkin di kepala Anda cuma ada konsep bahwa pahala adalah ganjaran atau balasan atas perbuatan tertentu. Coba sekarang ditanamkan di kepada Anda arti pahala yang ada di KBBI saja: buah perbuatan baik. Orang yang tulus tidak hendak mengklaim buah perbuatan baiknya. Ia cuma menebarkan perbuatan baik, dan tidak hendak mengejar buah perbuatan baik itu. Coba tunjukkan kepada saya orang gila mana yang pekerjaannya setiap hari mencari-cari pengendara motor yang lupa menaikkan standar motornya dan lalu mengingatkannya dan memastikan pengendara motor itu selamat! Ketulusan itu tak dicari-cari. Ia hanyalah aliran dari kebaikan-Nya. Celakanya, karena beragama dan merasa beriman, orang bisa begitu saja menganggap kebaikannya itu tulus, sebagai aliran kebaikan Allah sendiri.

Cara mengujinya gampang kok, seperti diindikasikan juga dalam teks bacaan hari ini: jangan ribet dalam melakukannya (meribetkan diri dan orang lain), kalau diterima ya oke, ditolak pun oke. Yang biasanya sulit dipenuhi orang yang merasa baik ialah saat ia ditolak, diminta berhenti, diminta pensiun, diminta pindah, dan sejenisnya. Pokoknya bertentangan dengan kebiasaan yang sudah dianggapnya baik. Pada momen itu, jika ia tak bisa berhenti, kebaikannya jadi ideologis, bisa mekanis, bisa kompulsif, dan di situ ketulusan absen. Aliran kebaikan Allah disusupi oleh aliran kepentingan narcisistiknya. Orang tulus mampu stop and go demi kebaikan bersama.

Ya Allah, mohon rahmat kerendahan hati supaya kami mampu mendengarkan Sabda-Mu dan waspada terhadap kepentingan kompulsif kami. Amin.


KAMIS BIASA IV B/2
1 Februari 2018

1Raj 2,1-4.10-12
Mrk 6,7-13

Posting Tahun C/2 2016: Bebas Memang Gak Enak
Posting Tahun B/1 2015: Jahatnya Dunia Lain

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s