Dilanmu Mana?

Cinta itu indah, bahkan kalau elu salah pilih pasangan!
Anda bisa langsung protes, khususnya yang mengalami tindak kekerasan atau putus cinta atau tepuk sebelah tangan dan sejenisnya. Bagaimana mungkin married dengan orang yang hanya mabuk-mabukan, main tampar, tak punya duit, main judi, main perempuan, dan seterusnya, silakan lanjutkan dengan litani yang Anda miliki untuk mengatakan bahwa salah pilih pasangan bikin cinta tidak indah! 

Saya sampaikan kabar baiknya: Cinta tak kenal salah milih pasangan. Salah pilih pasangan cuma berlaku untuk perkawinan dan mohon akuilah bahwa Cinta memang tidak identik dengan perkawinan [wis dhak kandhani wiwit biyen ya ora percaya]. 

Saya tidak hendak mendompleng popularitas novel Dilan atau filmnya yang mungkin sekarang sedang booming. Saya juga bukannya ja’im untuk tidak menontonnya [cuman takut kalau malah malu mengingat masa evolusi saya dulu sebagai munyuk soalnya itu memang bersetting tahun-tahun kemunyukan saya]. Saya cuma mau konsisten dengan apa yang saya yakini dan yang senantiasa hendak saya bagikan, meskipun jelaslah jauh dari populer dan takkan bisa mendompleng Dilan. 

Pada teks bacaan hari ini dikisahkan ada orang yang sudah tua sekali yang mengesankan sosok yang begitu lama menantikan penghiburan beberapa menit saja. Bisa jadi ia mengalami kebosanan atas hidup rutinnya, bisa jadi ia bahkan sedemikian mekanis, meskipun dalam teks disebutkan ia adalah sosok saleh dan suci. Mungkin juga dia sudah hampir kehilangan harapan, lelah karena apa yang dijanjikan kepadanya tak kunjung datang. Umurnya hampir seabad dan ternyata yang dijanjikan kepadanya itu muncul di penghujung usianya dan mungkin cuma beberapa menit.

Meskipun demikian, yang beberapa menit itu ternyata menyentuh inti eksistensi hidupnya sampai-sampai dia bilang seakan-akan,”Wis mati waelah aku, wong sing dhak tunggu wis rawuh.” Sudah mati sajalah aku karena yang kunantikan sudah datang. Inilah yang tadi saya maksud dengan Cinta itu: Ia datang dan paradoksnya, Ia justru tidak membuat orang tergila-gila, malahan lepas bebas dan seakan ingin segera berkumpul dengan Allah di seberang kematian.

Bukankah itu sebetulnya yang terjadi pada Dilan dan Milea? Apakah mereka salah pilih pasangan? Haiya itu tadi, bergantung pada sudut pandangnya. Kalau sudah menakdirkan mereka adalah pasangan, ya Milea salah pilih pasangan. Akan tetapi, Cinta tidak sesederhana itu skenarionya. Milea adalah sosok yang bersyukur atas masa lalunya tanpa mengutuk hidupnya yang sekarang.

Hidup yang dipersembahkan kepada Allah, seperti dipestakan Gereja Katolik hari ini, rupanya adalah hidup yang memberi efek tiga menit tadi. Hidup yang dipersembahkan kepada Allah tak pernah menjerat orang pada masa lalu yang senantiasa diratapinya atau malah dirantainya ke mana-mana. Hidup yang dipersembahkan kepada Allah ini membebaskan orang dalam status hidup apa pun. Yang lain-lainnya hanyalah aksesori yang bisa dipermak bagaimanapun tapi tak perlu dijadikan idol. Itulah Dilan saia…

Ya Tuhan, mohon rahmat dan cinta-Mu. Kiranya itu cukup sudah bagi kami. Amin.


PESTA YESUS DIPERSEMBAHKAN DI BAIT ALLAH
Jumat Biasa IV B/2
2 Februari 2018

Ibr 2,14-18
Luk 2,22-40

Posting Tahun A/1 2017: Saya Disadap
Posting Tahun C/2 2016: Orang Tua Bikin Hang

Posting Tahun B/1 2015: Bismillah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s