Moving Borobudur

Mari ke tempat sunyi dan beristirahat sejenak!
Ajakan itu tertulis dalam Kitab Suci, tetapi entah apa jadinya kalau dipakai sebagai pedoman muda-mudi zaman now

Sejak tadi malam saya mengikuti pertemuan komunitas yang beranggotakan banyak ahli dari mancanegara dengan tajuk Borobudur Moving Life. Tak ada spanduk, tak ada baliho, tak ada tiket online, dan sebagainya. Ini memang program senyap dan sekolahan saya diperkenankan hadir dalam pertemuan bersama mereka untuk belajar dari para ahli dan aktivis itu: arkeolog, budayawan, seniman, penari, dramaterapi, kurator situs sejarah, dan antropolog. Ikut juga di situ seorang biku berdarah Eropa dan bikuni dari Korea.

Kami tiba di tempat pertemuan pada saat mereka, sekitar 20-an anggota komunitas itu melakukan tarian kesadaran dengan iringan alat tiup dan perkusi. Tarian ini jelas jauh berbeda dari joged ndangdhut atau hip hop atau disco. Yang diperoleh dari tarian itu adalah pikiran rileks, unity of mind and body, dan sejenisnya. Ya maklum, para ahli itu tentu datang ke Indonesia juga untuk beristirahat.

Akan tetapi, yang mencengangkan sebagian dari kami ialah bahwa mereka ini para ahli yang tidak bisa dibilang muda lagi namun passion mereka untuk belajar seperti tak kenal batas. Belajar dari Buddhisme, dari Borobudur, dari kehidupan. Ada pertanyaan menohok mahasiswa yang membungkus keprihatinan saya, yang tidak saya lontarkan: bagaimana mesti ditanggapi suatu tegangan antara turisme dan inner quest yang dimiliki setiap orang?

Borobudur, entah dulu dibangun dengan maksud ritual atau tidak, memuat kekayaan pengetahuan misteri kehidupan yang pantas diakses oleh siapa pun. Pengetahuan itu tak mungkin diakses dengan modal selfieinstagram, atau bentuk pembekuan lainnya: orang datang, diberi ceramah mengenai sejarah Borobudur, naik tangga ngos-ngosan, berfoto ria sejenak entah dengan bumerang atau dengan tiru peran, naik tangga lagi dan ngos-ngosan lagi lalu cheers!

Tak isa! Pengetahuan yang bisa dipelajari itu tak bisa diperoleh dengan modal turisme yang bisa dilakukan dalam hitungan menit atau bahkan beberapa jam. Bisa butuh berjam-jam, bahkan berhari-hari untuk sekadar mengenali bagaimana misteri kehidupan digambarkan dalam reliefnya. Akan tetapi, kalau orang mesti menyediakan waktu sebanyak itu, bagaimana pariwisata bakal mendongkrak pendapatan? Kalau pengunjung keajaiban dunia ini dibatasi sehari seribu orang saja, mana cukup duitnya untuk perawatan candi sebesar itu?

Justru itulah kerisauan saya. Orang-orang bulé itu jauh-jauh datang ke Borobudur untuk beristirahat dalam upaya mereka belajar. Sementara situs tempat belajar ini jadi situs pariwisata, bagaimana bisa diupayakan supaya Borobudur itu dimasukkan dalam batin orang supaya setiap orang sadar akan inner quest yang pasti melampaui denominasi atau sekat agama mana pun?

Saya bersyukur di tengah upaya mencari relief Sudhana, saya bertemu seseorang yang membagikan kepada saya pengalamannya di Borobudur. Ia mengobservasi apa yang terjadi dalam dirinya: terjadi disorientasi. Ini bukan disorientasi negatif. Ia menunjukkan kepada saya bagaimana pencerahan itu datang ketika ia terus bergerak. Borobudur ‘memaksanya’ bergerak. Hidup jadi journey, bukan tourism.

Memang, kerohanian adalah gerak kreatif yang tak mungkin dimiliki orang yang berkaca mata kuda.

Tuhan, mohon rahmat keterbukaan untuk senantiasa belajar. Amin.


SABTU BIASA IV B/2
3 Februari 2018

1Raj 3,4-13
Mrk 6,30-34

Posting Tahun A/1 2017: Terbalik Nèng!
Posting Tahun C/2 2016: Ayo Cari Duit
Posting Tahun B/1 2015: Doa Bukan Pelarian Br0w!

3 replies

  1. Pujituhan akhirnya bisa kembali melihat Romo memimpin misa sore ini ,sayang sekali tidak memberikan homili.Sehat selalu ya mo ,berkah dalem 🙂

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s