Kartu Kuning

Kartu kuning dan kartu merah saya kenal pada cabang olah raga sepak bola, tetapi belakangan saya tahu pada cabang olah raga badminton juga ada kartu kuning dan kartu merah, dan lebih belakangan lagi saya tahu pada cabang olah mulut (untuk tidak mengatakan conthong alias tempat kacang rebus berbentuk corong) ada juga kartu kuning dan kartu merah. Dua kartu ini sudah diacungkan, yang satu oleh ketua BEM salah satu universitas negeri di NKRI dan yang lainnya oleh tokoh partai di NKRI. Kepada siapa lagi wacana mulut mereka (untuk tidak mengatakan conthong tadi) diarahkan kalau bukan kepada sosok pimpinan tertinggi NKRI ini?

Trus apa nih maksudnya pakai judul kartu kuning segala kalau bukan untuk ndompleng trending topic lagi? Ujung-ujungnya pasti maksa-maksain pendapat terhadap teks bacaan hari ini yang alurnya jelas: orang nyembuhin jadi populer, lalu sembahyang, njuk bergerak menjauhi tren popularitas itu untuk fokus pada misi utama hidupnya untuk mewartakan kabar gembira bagi sebanyak mungkin orang!

Maksudnya seperti tertera dalam judul: kartu kuning sebagai kartu peringatan. Ini bukan teguran terhadap pimpinan tertinggi NKRI, melainkan peringatan terhadap warga NKRI. Ini bisa seperti tanda untuk siap-siap berhenti atau untuk siap-siap berjalan. Apakah hendak stop atau go, itu bergantung pada misi utama yang hendak dikejar warga NKRI. Maunya apa. Kalau mau NKRI ini hancur, ya kritiklah pimpinan tertinggi NKRI itu sak penak wudelmu dhéwé dan kalau mau NKRI ini kokoh, kritislah terhadap aneka gerakan dalam skala kecil atau masif, lokal atau nasional, yang ujung-ujungnya merongrong stabilitas politik NKRI.

Bahas apa sih, Mo? Ingat ya teksnya cerita soal penyembuhan ibu mertua Petrus yang terbaring sakit!
Haiya justru karena ingat teksnya itu makanya perlu dikeluarkan kartu kuning. Bayangkanlah Anda terus berbaring 24 jam juga meskipun tidak sakit. Apa rasanya? Melelahkan, membuat badan tak enak, untuk beranjak dari berbaring pun jadi malas, berat, tak enak. Anda terblokade untuk melakukan aktivitas lain. Ibu mertua Petrus terblokade. Yesus menyembuhkannya: melepas blokade supaya ia bisa bekerja melayani orang lain.

Iya, tapi apa hubungannya dengan kartu kuning? Hubungannya ada pada tindakan Yesus berikutnya. Karena populer, ia menyempatkan diri untuk menyepi, berdoa. Ini bukan momen membuat blokade yang membatasi aksi, melainkan momen untuk meninjau kembali misi utamanya. Terbukti pada akhir teks dikatakan ia tetap menjalankan aksi, tetapi bukan aksi reaktif untuk menanggapi popularitas. Doa membuat orang éling pada misi utama warta gembira.

NKRI adalah warta gembira, terlepas dari pimpinan tertingginya yang tak pernah sempurna. Apa gunanya juga menjelek-jelekkannya demi NKRI? Mungkinkah membangun NKRI dengan modal mengkritik pimpinan tertingginya? Mungkin saja: kalau pimpinan tertinggi itu memang nyata-nyata hendak membuat gaduh di sana-sini.

Lalu kenapa featured imagenya kartu merah?
Silakan amati baik-baik, ini pesan dari kartu kuning: mereka yang bikin gaduh itu adalah yang suka mengeluarkan kartu merah. Mereka mengeksklusi pihak lain, “Gue bener, lu salah! Gue surga, lu neraka!” Amati wajahnya, lihat sepak terjangnya, cermati komplotannya. Ini tahun politik, Bung: fokus hilang, NKRI melayang.

Tuhan, mohon rahmat supaya kami tetap fokus pada warta gembira-Mu. Amin.


HARI MINGGU BIASA V B/2
Minggu, 4 Februari 2018

Ay 7,1-4.6-7
1Kor 9,16-19.22-23
Mrk 1,29-39

Posting Tahun 2015: God Sees the Truth but Waits…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s