New Life

Kalau di dunia ini ada kurang lebih 365 suku atau bangsa atau agama dengan penanggalannya sendiri-sendiri, bisa jadi setiap hari kita merayakan tahun baru.
Ya enggaklah, Rom, kan yang merayakan tahun baru cuma kelompok orang yang bersangkutan!
Oh, gitu ya? Jadi ini tahun baru Imlek yang merayakan siapa ya? Orang-orang di negara Cina? Orang-orang Tionghoa di benua mana pun mereka berada dan apa pun agama mereka, atau siapa ya?

Memang bergantung pada maksud ‘merayakan’ itu sih. Kalau perayaan itu berarti bagi-bagi angpao atau minta-minta angpao, saya gak ikut-ikutan, tetapi kalau ini soal menjadi happy, memberi pemaknaan bagi hidup, saya merayakannya dengan sepenuh hati: selamat tahun baru Imlek. Tahun baru apa pun hanyalah petunjuk keragaman berpikir manusia untuk memahami dunianya dengan harapan akan kebaruan dalam hidup mereka. Maka, pada tahun baru Imlek, orang tidak perlu menjadi Tionghoa atau Kristen atau Jawa atau apa pun untuk merefleksikan hal lampau dan menatap ke depan dengan harapan akan sesuatu yang lebih baik.

Teks bacaan hari ini mengisahkan proses penyembuhan dua orang sakit. Yang satu sakit kronis, sudah dua belas tahun sakit pendarahan dan tak seorang tabib pun berhasil menyembuhkannya. Yang satu kondisinya kritis, terlambat sedikit saja nyawanya tak tertolong. Betul saja, yang kritis itu tak tertolong karena Guru dari Nazareth terhambat oleh penyembuhan terhadap perempuan yang bersakit kronis itu. Akan tetapi, betulkah tak tertolong? Ternyata tidak; tak ada kata terlambat bagi Allah untuk membantu makhluk-Nya.

Dalam penyembuhan pertama, jelas ditekankan Guru dari Nazareth: imanmu telah menyelamatkanmu. Iman dan kepercayaan perempuan itu jadi boarding passnya untuk sembuh dari sakit. Njuk anak Yairus yang sudah mati itu apa masih punya boarding pass? Iman siapa yang menyelamatkannya karena begitu orang mati, dia tak butuh apa-apa lagi selain keselamatan dari Allah.
Boarding passnya dipegang Guru dari Nazareth dan orang-orang yang sudah diberi pesan untuk tidak takut dan percaya saja. Mereka yang menertawakan Guru dari Nazareth tidak diperkenankan masuk; saya kira karena mereka tak henti-hentinya menertawakan Guru dari Nazareth dan tak bisa menumbuhkan iman dan kepercayaan akan kuasa Allah menolong umat-Nya; atau mungkin juga karena kalau terlalu banyak orang di dalam ruang jenazah itu malah rebutan oksigen; mbohlah.

Pesan Guru dari Nazareth supaya orang tidak takut dan percaya saja kepada Allah saya kira juga sejalan dengan harapan tahun baru yang memberi hidup baru kepada mereka yang mengandalkan Allah. Maka, pada tahun baru Imlek ini, setiap orang beriman diingatkan pada hidup baru yang perlu dibangun juga meskipun tampaknya seperti tanpa harapan (bersimbol muara sakit: kematian). Orang beriman tidak menertawakan kekuatan Allah, tidak menistakan kemurahan Allah. Ia membuka diri pada suatu kebaruan, pada kemungkinan hidup baru, yang tentu saja meninggalkan keusangan hidup lama.

Tuhan, mohon rahmat kebijaksanaan-Mu supaya kami mampu mengenali hidup baru yang Kauberikan untuk kami bangun sebagai hidup bersama-Mu. Amin.


SELASA BIASA IV C/1
Peringatan Wajib S. Agata
Tahun Baru Imlek
5 Februari 2019

Ibr 12,1-4
Mrk 5,21-43

Posting Tahun B/2 2018: Agamafobia
Posting Tahun A/1 2017: Istirahatnya Kata dalam Fakta

Posting Tahun B/1 2015: Mosok Gak Bisa Menyembuhkan?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s