Agama Kok Pesimis

Pada halaman berita media sosial saya ada video singkat mengenai orang yang membentak-bentak petugas lapas karena tidak diperkenankan menjenguk napi, yang rupanya adalah artis, di hari Minggu. Entah di mana terjadi miskomunikasinya, saya sendiri mendoakan semoga para petugas, aparatur negara bisa bersikap seperti tampak dalam video itu: tidak terpancing emosinya seperti orang yang membentak-bentak mereka. Apa jadinya kalau orang kalap dihadapi dengan kekalapan juga? Tak ada orang yang mengambil keputusan yang baik dalam situasi kalap.

Dari teks bacaan hari ini dapat dimengerti bahwa di mana ada roh jahat, di situ ada penistaan diri yang berujung pada kesepakatan untuk memilih cara-cara jahat juga. Ceritanya sederhana. Ada orang yang kerasukan roh jahat sehingga ia berkeliaran di kuburan dan menista dirinya dengan memukul-mukulkan kepalanya ke batu. Tak seorang pun sanggup mengontrol orang ini. Ndelalahnya, ketika Guru dari Nazareth datang, roh jahat ini memang tak bisa bertahan, tetapi njuk minta untuk hijrah dan jebulnya tujuan hijrahnya adalah sesuatu yang oleh orang Yahudi adalah kenajisan: mereka minta masuk ke kawanan babi. Kok ya milihnya babi gituloh, kayak gak ada yang lebih bermartabat gitu. Lha iyalah, namanya juga roh jahat, mosok milih merasuki presiden yang sederhana dan bekerja #eh….

Barangkali ilmu-ilmu modern mengafirmasi intuisi itu: minimnya kepercayaan diri, penistaan diri merupakan drama besar dalam masa penuh depresi dan sakit jiwa. [Celakanya, sebagian orang beragama menamai penistaan diri dan minimnya kepercayaan diri itu sebagai kerendahhatian!] Kalau Anda melihat klip video singkat orang marah-marah kepada petugas lapas itu, Anda akan dapat melihat dengan jelas siapa yang menistakan dirinya, siapa yang justru menampakkan martabatnya. Saya senang melihat petugas lapas yang tetap tenang melayani orang yang kalap, dan itu yang saya harapkan terus terpelihara.

Orang kalap kehilangan kepercayaan diri dan orang yang kepercayaan dirinya merosot, meskipun berkoar-koar mengenai kemaslahatan, kepentingan bersama, di kedalaman hatinya tetaplah merupakan manusia tribal dan manusia tribal begini akan melihat kontestasi politik seakan-akan sebagai ajang hidup mati kelompok primordialnya.
Sebetulnya saya prihatin jika melihat pemuka agama kehilangan kepercayaan dirinya, jika pemuka agama tidak lagi mencari kehendak Allah, melainkan kehendak agamanya sendiri (yang sudah pasti direduksi lagi sebagai kepentingan ideologisnya sendiri). Ini contoh ungkapan yang memprihatinkan: “Kalau pada pilpres 2019 ini umat agama kita kalah, entahlah apakah agama kita masih ada atau tidak.”

Kenapa itu memprihatinkan? Ya itu tadi, kontestasi politik dalam masyarakat majemuk seperti negeri ini pasti bukan kontestasi agama, kenapa mesti diseret-seret ke ranah agama? Bukankah umat agama anu terlibat dalam partai anu dan inu yang berkompetisi? Piyé hukum logikanya jika pilpres njuk jadi ajang kompetisi antarumat beragama? Bahkan kalau yang dirujuk adalah nilai-nilai agamanya, bukankah ungkapan tadi bernada pesimis seakan-akan agama tak mampu beradaptasi dengan tantangan zaman baru? Padahal, kenyataannya, agama sudah bertahan sekian puluh abad. Dari mana datangnya pesimisme itu? Saya ikut Jokowi saja: optimislah, bangun harapan, termasuk hidup beragama.

Tuhan, mohon rahmat ketulusan supaya kami sungguh menghidupi agama sebagai jalan menuju kerahiman-Mu. Amin.


SENIN BIASA IV C/1
Peringatan S. Yohanes de Britto SJ
4 Februari 2019

Ibr 11,32-40
Mrk 5,1-20

Posting Tahun B/2 2018: Agama Racun
Posting Tahun A/1 2017: Penistaan Babi

Posting Tahun C/2 2016: Yang Haram Memang Enak

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s