Guru Sunting, Dosen Sinting

Tahukah Anda bahwa apa yang dikerjakan Mister Bunyan penyebar video pidato BTP itu pada prinsipnya juga dilakukan Guru dari Nazareth? Ia menghilangkan frase penting dari bacaannya. Teks manakah itu? Silakan lihat teks bacaan ketiga pada hari Minggu lalu dalam posting Kebenaran Membebaskan. Di situ dikatakan bahwa kepadanya diberikan gulungan Kitab Yesaya. Nah, menariknya, kalau Anda baca teks kelanjutannya, Anda tidak akan menemukan hubungan antara apa yang disampaikan Guru dari Nazareth dan kemarahan orang-orang di rumah ibadat itu.

Lebih jelasnya begini. Awalnya mereka membenarkannya dan takjub atas kata-kata indah yang diucapkannya. Lha kok terus di akhir teks itu dikatakan mereka marah? Mosok mereka marah hanya karena Guru dari Nazareth ini ‘cuma’ anak Yusuf? Mosok mereka marah karena ia mengungkap fakta sejarah Israel [nota bene, jangan samakan Israel zaman Yesus dulu dengan Israel zaman sekarang ini ya] mengenai Nabi Elia atau Naaman?

Memang sih, teksnya mengatakan begitu: mendengar itu, sangat marahlah semua orang di rumah ibadat. Akan tetapi, justru itu yang saya persoalkan. Lha wong tadinya membenarkan dan terkagum-kagum, kok di akhir malah marah-marah. Apa salahnya janda Sarfat, Elia, Naaman?

Perubahan reaksi ini jangan-jangan memang tak bisa dijelaskan oleh apa yang dikatakan Guru dari Nazareth, tetapi justru oleh apa yang tidak dia katakan! Ini belajar dari kasus BTP; video yang disebarkan Mister Bunyan adalah suntingan audiovisual yang membuat BTP tampak tidak mengatakan ‘pakai’. Ini maksud saya tadi: yang dipersoalkan orang banyak itu ialah bahwa BTP tidak mengatakan ‘pakai’. Itu seperti orang tidak mengatakan ‘memuat’ dalam pernyataan “Kitab Suci itu fiksi” [berbeda dari “Kitab Suci itu memuat fiksi”]. Poin saya, bisa jadi, problem besar muncul bukan karena yang dikatakan, melainkan karena hal yang tidak dikatakan. 

Nah, yang dibuat Guru dari Nazareth ini kasusnya berat sekali karena berkenaan dengan paradigma agama mengenai paham Allah. Frase yang tidak dibacakannya dari Kitab Yesaya itu berbunyi “hari pembalasan Allah”. Itu adalah pasangan dari tahun rahmat Tuhan dalam teks Yesaya (61,2).
Loh, Rom, tapi kan reaksi kemarahan itu tidak muncul begitu Guru dari Nazareth selesai membacakan teks Yesaya?
Betul, sama saja dulu reaksi kemarahan terhadap BTP tidak terjadi segera setelah ia memberi kata sambutan. Ada jedanya. Sayangnya, jeda yang dimiliki Guru dari Nazareth ini justru diisinya dengan narasi yang klop dengan penghilangan “hari pembalasan Allah” tadi.

Gak dhonk, Rom. Maksudnya?
Orang dulu begitu akrab dengan paham Allah yang suka membalas, menghukum orang jahat. Siapa yang jahat? Ya yang tidak mengikuti hukum Taurat yang jadi pegangan orang Yahudi. Tidak ada dalam kamus mereka bahwa tahun rahmat Tuhan itu menghilangkan pembalasan terhadap orang-orang kafir. Maka, wacana mengenai kemurahan hati Allah terhadap orang kafir memicu kemarahan orang banyak itu.

Penghilangan frase “hari pembalasan Allah” menunjukkan pesan yang dibawa Guru dari Nazareth: wujudkanlah paham Allah yang memberi kebebasan dan merangkul semua orang, bukan Allah yang membalas kejahatan dengan kejahatan atau mengucilkan pendosa atau membuat orang jadi arogan dengan mendungukan orang lain.

Tuhan, bantulah kami supaya semakin mampu menerima adanya perbedaan selagi kami berjuang mewujudkan kesejahteraan bersama. Amin.


HARI MINGGU PEKAN BIASA IV C/1
3 Februari 2019

Yer 1,4-5.17-19
1Kor 12,31-13,13
Luk 4,21-30

Posting Tahun 2016: Cara Melupakan Masa Lalu

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s