Mau Sisa-sisa?

Menarik juga loh tradisi Yahudi yang diperingati Gereja Katolik hari ini: anak sulung selalu adalah ‘properti’ Allah, maka mesti dipersembahkan kepada-Nya. Dengan disembelih? Tidak, tetapi dibawa ke Bait Allah dan ‘dibeli’ dengan sepasang tekukur, atau kalau lebih kaya sedikit dengan domba, atau lembu. Menariknya bukan bahwa orang tua membeli bayi sendiri dengan kurban burung merpati, melainkan bahwa mereka setia pada tradisi agama yang menempatkan anak sulung sebagai ‘properti’ Allah.

Tentu saja, berapa pun jumlah anak, dalam keyakinan umat beriman, semua ya ‘properti’ Allah, tetapi pilihan pada anak sulung itu menunjukkan bahwa yang dipersembahkan kepada Allah bukanlah ‘sisa-sisa’. Sejujurnya saya tidak tahu apakah lebih mudah ‘membuat’ anak pertama atau kedua dan seterusnya, tetapi mempersembahkan anak pertama kepada Allah adalah simbol kuat bagi keterpautan orang beriman pada Allah Sang Pencipta, yang maha murah lagi penyayang. Pada kenyataannya, persembahan itu tidak merenggut anak pertama sehingga mesti pisah dari orang tuanya (jadi imam atau biarawati, hiks hiks hiks), tetapi menegaskan superioritas Allah terhadap jerih payah usaha manusia.

Meskipun Allah sebagai owner [padahal bisa ketik ‘pemilik’] lebih superior, itu tidak mengurangi makna jerih payah usaha manusia. Persembahan anak sulung justru mengatakan bahwa jerih payah manusia itu bermakna ketika diletakkan sebagai persembahan kepada Allah. Bisa jadi segala susah payah hidup ini kehilangan maknanya jika semata tertuju pada kepentingan egois atau sentimen tribal.
Belakangan, kecurigaan saya terhadap ASN (tentu bukan setiap ASN), yang condong untuk cari aman tanpa susah payah dengan jaminan masa depan, seperti terkonfirmasi oleh survei yang dibuat Charta Politika: lebih condong untuk tidak memilih Jokowi. Itu masuk akal, karena Jokowi tidak menjanjikan kenaikan gaji, tetapi malah menekankan kinerja dan transparansi lewat e-budgetingHa njuk entuk tambahan dari mana kalau sistemnya dibuat transparan dari level bawah sampai atas?

Sudah saya bahas dalam posting Aparatur Sipil tuhaN soal sentimen negatif saya terhadap PNS, tetapi sebetulnya di situ saya simpan harapan besar supaya ASN benar-benar membuat sinkron antara hidup keagamaan dan hidup kenegaraan. Memang, mempersembahkan anak sulung dalam tradisi Yahudi itu sesederhana membeli burung dara, tetapi konsekuensi nilai yang terkandung di dalamnya jauh lebih susah daripada sekadar menjalankan ritual. Kalau orang tidak hendak memberi ‘sisa-sisa’ kepada Tuhan yang begitu murah hati kepadanya, itu hanya terafirmasi oleh kerjanya di dunia ini: tidak memberi ‘sisa-sisa’ kepada sesama.
Omong kosonglah orang beragama yang berkoar-koar memuji dan memuliakan Tuhan tetapi cuma cari aman dan selamat sehingga pelayanan publiknya nol atau malah negatif. Agama bagi saya menarik bukan karena pakaiannya, ritualnya, bunyi doktrinnya, jumlah penganutnya, melainkan karena ia mengabdi pada pelayanan publik.

Loh, bukankah untuk pelayanan publik tak dibutuhkan agama, Rom?
Justru itulah, agama bisa jadi menarik: bisakah ia memberi andil untuk peningkatan pelayanan publik bahkan meskipun ia tak dibutuhkan? Secara teoretis bisa, asal ia tidak sibuk dengan politik identitas, dan orang-orang beragama tak memberi ‘sisa-sisa’ kemampuannya bagi bonum commune
.

Ya Allah, mohon kekuatan untuk mencintai-Mu dan sesama dengan sepenuh hati. Amin.


PESTA YESUS DIPERSEMBAHKAN DI BAIT ALLAH
Sabtu Biasa III C/1
2 Februari 2019

Ibr 2,14-18
Luk 2,22-40

Posting Tahun 2018: Dilanmu Mana?
Posting Tahun 2017: Saya Disadap

Posting Tahun 2016: Orang Tua Bikin Hang

Posting Tahun 2015: Bismillah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s